Dituduh Kudeta Rebut Tahta Raja, 2 Pangeran Kerajaan Arab Ditangkap
Jurnal123.com – Pihak berwenang di Arab Saudi dilaporkan telah menangkap dan menahan dua pangeran Kerajaan Arab. Kedua pangeran itu yakni adik kandung dan keponakan Raja Salman, Pangeran Ahmed bin Abdulaziz dan Pangeran Mohammed bin Nayef.
Dalam penangkapan yang dilaporkan terjadi sebuah tempat di kamp gurun, petugas juga membawa saudara dari Pangeran Mohammed bin Nayey bernama Nawaf.
Washington Post dalam pemberitaannya, Sabtu 7 Maret 2020 menyebutkan, kedua pangeran itu ditangkap atas perintah dari Pangeran Mahkota, Mohammed bin Salman atau MBS.
Kedua pangeran itu ditangkap dengan tuduhan telah berkhianat pada kerajaan dan berencana merebut tahta raja dari tangan Raja Salman.
Penangkapan dua pangeran itu langsung menjadi sorotan dunia. Sebab, sebelumnya tak pernah terprediksi MBS bakal melakukan aksi penangkapan itu terhadap saudaranya sendiri.
Meski sejauh ini Pemerintah Arab belum mengumumkan dasar dari penangkapan kedua pangeran itu.
Namun, diduga kuat MBS sedang dilanda ketakutan akan terjadi kudeta merebut tahta raja, sebab kondisi Arab Saudi dalam kondisi kurang stabil.
Saat ini Arab sedang diterpa berbagai masalah, mulai dari ancaman serangan Virus Corona alais COVID-19 hingga penurunan harga minyak yang mencapai titik terburuk sejak 12 tahun terakhir, saat ini harga minyak merosot lebih dari 9 persen.
Menurut kepala Timur Tengah dan Afrika Utara pada konsultasi Grup Eurasia, Ayham Kamel dalam kondisi itu diduga muncul ketakutan bakal terjadi kudeta.
“Tantangan kepemimpinan Saudi telah meningkat dalam beberapa hari terakhir. Hal itu membuat keluarga kerajaan lebih sensitif terhadap risiko kudeta,” ujarnya seperti dilansir Bloomberg.
Selain itu, Pengadilan Kerajaan Arab Saudi sempat menyatakan bahwa Pangeran Ahmed dan Pangeran Mohammed bin Nayef telah merencanakan kudeta.
Belum lagi Rusia juga baru saja menolak permintaan Arab Saudi untuk memangkas produksi dan menopang harga. Dan tingkat kepercayaan publik mulai menurun usai terjadi perang dengan Yaman.
Pangeran Mahkota yang berkuasa di Arab Saudi Mohammed bin Salman alias MBS telah menahan anggota senior keluarga kerajaan.
Pangeran Ahmed bin Abdulaziz, adik Raja Salman, dan Pangeran Mohammed bin Nayef, keponakan raja, ditangkap pada Jumat pagi waktu setempat. Kedua pangeran itu ditangkap dengan tuduhan melakukan pengkhianatan dari ingin merebut tahta kekuasan. Mereka sudah dijebloskan ke penjara dan terancam mendapatkan hukuman penjara seumur hidup.
Kedua pangeran itu dibawa oleh petugas pengadilan Kerajaan Arab dengan mengenakan topeng berwarna hitam. Tak cuma itu, pihak berwenang juga telah melakukan penggeledan di rumah keduanya.
Mohammed bin Nayef merupakan mantan menteri dalam negeri, posisi yang kuat dengan pengawasan pasukan dan layanan intelijen besar Riyadh, dan telah secara efektif berada di bawah tahanan rumah sejak ia dipindahkan dari jabatan itu oleh MBS pada 2017.
Selama beberapa tahun terakhir, kedudukan mereka dalam keluarga kerajaan telah berkurang ketika Raja Salman mengkonsolidasikan kekuasaan dan mengangkat putranya, MBS, sebagai pangeran mahkota dan penguasa de facto kerajaan.
Pada September 2018, seorang sumber senior mengatakan kepada Middle East Eye bahwa Pangeran Ahmed sedang mempertimbangkan untuk menempatkan dirinya dalam pengasingan di London.
Pangeran Ahmed sebelumnya membuat komentar yang mengatakan “raja dan putra mahkota, dan yang lainnya di negara bagian” yang harus disalahkan atas situasi saat ini di negara itu, menandai pertama kali seseorang dari pangeran pangeran memecahkan kode keheningan keluarga.
Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman, yang merupakan putra dari Raja Salman, merupakan penguasa de facto di Kerajaan Arab Saudi.
Sejak dinobatkan sebagai putera mahkota pada 2017, MBS, yang merupakan panggilan Mohammed bin Salman, telah melakukan konsolidasi kekuasaan setelah menggeser posisi sepupunya Mohammed bin Nayef sebagai pewaris takhta kerajaan.
MBS juga sempat menangkap puluhan bangsawan, pejabat kerajaan dan pebisnis dalam gerakan anti-korupsi pada tahun itu. Dia meminta mereka membayar kerugian negara akibat praktek korupsi yang terjadi sebelumnya.
MBS mengalami penolakan oleh sebagian anggota senior kerajaan sejak dia berupaya melakukan konsolidasi kekuasaan.
Sikap penolakan ini bertambah setelah terungkapnya kasus pembunuhan kolumnis Washington Post oleh agen intelijen Arab Saudi yaitu Jamal Khasoggi.
Kepemimpinan MBS juga dipertanyakan setelah terjadi serangan besar-besaran terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi pada 2019, yang diduga kuat dilakukan oleh Iran. Otoritas Iran membantah ini dan mengatakan pelakunya adalah kelompok milisi Houthi, yang beroperasi di Yaman
Sejak berkuasa, MBS telah memimpin penumpasan brutal terhadap suara-suara yang berselisih, dengan aktivis, cendekiawan, penulis, ekonom dan tokoh masyarakat ditangkap.(VIN/JIM)
