Mencegah Serangan Jantung di Usia Muda
Jurnal123.com – Ashraf Sinclair, pria berkewarganegaraan Malaysia yang juga suami selebritas Bunga Citra Lestari (BCL) meninggal, Selasa (18/2). Ia berpulang pada usia 40 tahun, lantaran serangan jantung. Rekan-rekan sesama selebritas dibuat terkejut karena usia aktor film dan sinetron ini tergolong muda.
Penyakit jantung memang kerap disebut sebagai silent killer, sebab bisa menyerang siapa pun dan kapan pun hingga mengakibatkan kematian. Beberapa dekade lalu, penyakit ini memang lebih banyak dilatari faktor usia. Yakni pada pria sekitar di atas 50 tahun sementara perempuan pada usia di atas 65 tahun.
Tapi studi terbaru menunjukkan orang-orang yang masih muda justru rentan pula terserang jantung. Mereka berusia antara 20 hingga 40 tahun.
Beberapa penyebabnya menurut laman Health Cleve and Clinic, adalah gaya hidup dan diabetes. Ahli jantung Luke Laffin mengatakan faktor terbesar meningkatnya risiko serangan jantung pada usia muda adalah diabetes.
Lantas bagaimana mencegah serangan jantung pada usia muda?
Dulu, gagasan yang mengemuka adalah bagaimana mencegah serangan jantung kedua atau susulan setelah terjadi serangan jantung pertama. Tapi pendapat ini bergeser. Kini pencegahan utama dilakukan dengan lebih memperhatikan gaya hidup, mulai dari makan makanan bergizi, tidak merokok, mengelola stress, olahraga secukupnya dan menjaga tekanan darah.
Anda juga disarankan konsisten menjaga pola hidup sehat dan berhati-hati memilih jenis makanan. Beberapa jenis makanan yang berkontribusi mengakibatkan diabetes misalnya makanan cepat saji.
Untuk mencegah diri agar terhindar dari serangan jantung, ada baiknya Anda juga mengetahui sejumlah perilaku yang memicu penyakit tersebut. Beberapa yang patut diwaspadai adalah obesitas, pola makan yang buruk dan kurang olahraga, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, kebiasaan merokok, dan riwayat kesehatan keluarga.
Bila Anda termasuk orang-orang yang berisiko, misalnya dari penyakit jantung bawaan keluarga, maka sadari sejak awal. Laffin mengatakan, perlu deteksi gejala dan pengakuan yang jujur.
“Tidak malah mengingkari dan mengatakan, ‘ah saya masih terlalu muda’. Ketika kita kini tahu bahwa sebagian besar serangan jantung dialami orang dengan usia muda, maka penting untuk melakukan konsultasi personal berdasar faktor risiko,” sambung Laffin.
Pedoman kesehatan merekomendasikan orang berusia 20 hingga 39 tahun tanpa risiko penyakit bawaan, juga perlu melakukan penilaian kesehatan jantung dan pembuluh darah secara berkala. Sementara mereka yang memiliki risiko genetik atau keturunan, disarankan sedini mungkin berkonsultasi dengan dokter.
Inti utamanya, adalah pencegahan. Penting untuk memahami faktor risiko serangan jantung, entah itu dari tekanan darah, lingkar pinggang atau pertanda lain. Kemudian bergegaslah memperbaiki pola hidup.
“Apapun yang bisa kita lakukan sejak dini, semakin baik. Kita perlu membiasakan diri, dan anak-anak kita, terutama soal obesitas. Kita harus waspada dengan faktor risiko serangan jantung mengingat, tingkat serangan jantung pada usia muda terus meningkat,” ungkap Laffin.
Dia menambahkan, kini tak cukup banyak anak muda yang sadar dan justru tak menganggap serius faktor risiko tersebut.
Meninum Teh Dapat Mencegah Serangan Jantung
Teh adalah minuman paling umum yang disajikan di mana saja. Penelitian teranyar menemukan, secangkir teh dapat membuat Anda terhindar dari penyakit kronis seperti jantung dan membuat Anda panjang umur.
Penelitian yang dipublikasikan di European Journal of Preventive Cardiology menemukan, meminum teh tiga kali atau lebih dalam sepekan dapat meningkatkan kesehatan jantung.
Dalam sebuah studi jangka panjang, para peneliti dari Akademi Ilmu Kedokteran Tiongkok, Beijing, menganalisis 100.902 peserta tanpa riwayat serangan jantung, stroke, atau kanker. Peneliti membaginya ke dalam dua kelompok: mereka yang minum teh tiga kali atau lebih dalam sepekan dan mereka yang tidak.
Setelah tujuh tahun kemudian, peneliti menganalisis peserta. Hasilnya, mereka yang lebih sering minum teh memiliki kondisi tubuh sehat dalam jangka waktu yang lebih lama. Peminum teh memiliki risiko penyakit jantung dan stroke yang 20 persen lebih rendah.
Setelah penelitian tahap pertama, sebanyak 14 ribu peserta diikutkan kembali dalam penelitian lanjutan. Hasilnya, mereka yang mempertahankan kebiasaan minum teh memiliki risiko penyakit jantung dan stroke yang lebih rendah 56 persen.
Kandungan polifenol yang ada di dalam teh disebut-sebut sebagai faktor utamanya. Ahli kardiologi, Guy L Mintz mengatakan, polifenol diketahui memiliki manfaat untuk kardiovaskular.
“Manfaat ini termasuk peningkatan fungsi pembuluh darah, lebih sedikit penyempitan,” ujar Mintz, melansir Healthline. Senyawa ini juga diketahui dapat meningkatkan kolesterol baik dalam tubuh, yang juga dapat melindungi jantung tetap sehat.
Namun, perlu dicatat, bahwa manfaat tergantung pada jenis teh yang diminum antara teh hijau atau teh hitam. Meski keduanya sama-sama mengandung polifenol, namun kebanyakan peserta lebih mendapatkan manfaat dari teh hijau.
Hal ini terjadi karena proses fermentasi pada teh hitam dapat mengurangi efektivitas polifenol.
“Dalam populasi penelitian kami, 49 persen peminum teh terbiasa mengonsumsi teh hijau, sementara hanya 8 persen yang lebih memilih teh hitam, ujar penulis studi, Dongfeng Gu.
Hal lain yang perlu menjadi catatan adalah bahwa manfaat kesehatan lebih terasa pada laki-laki dibanding perempuan. Para peneliti menduga, hal ini disebabkan oleh rendahnya risiko penyakit jantung dan stroke pada perempuan.(CIN)
