MUI Kantingan : Maraknya Aksi Radikalise Karena Mempertahankan Ego

Jurnal123.com – Maraknya permahaman radilkal yang beredar itu tidak bertanggung jawab mereka itu mengataskan nama kelompok komunitas yang hanya mempertahankan ego mereka. Pasalnya dilarang melakukan kekerasan dan merusak dari hukum-hukum negara dan diajarkan sifat kekerasan.
Ketua Majelis Ulama Indonesia, Kabupaten Kantingan, Haji Mahjumi ditemui Masjid Al-muhajirin di Kantingan, Kamis(5/12) 2019 mengatakan alhamdulilah pada saat ini dari Ketua MUI sekaligus tokoh agama bahwa beberapa hal yang perlu kami sampaikan masalah dan pemahaman paham radikal memang sungkup dari agama beberapa pemahaman-pemahaman yang sangat-sangat keliru bagi orang yang paham dari pelaku-pelaku yang tidak bertanggung jawab. “Jadi bertentangan rasa nasionalisme. Ini mereka hanya mengatasnamakan semacam kelompok komunitas sehingga mereka mempertahankan ego mereka. Pada hal di Islam tidak ada demikian bahwa dasar-dasar hukum memang ada bahwa dilarang bersifat kekerasan dilarang untuk merusak semacam merusak dari hukum-hukum negara peraturan atau undang-undang. Mengingat bahwa agama yang mendasar bagi kita semua,” ujarnya.
Selanjutnya, Mahjumi menegaskan jadi pedoman bagi kita semua kita sampaikan masalah kekerasan itu memang ada hindarilah dari sifat-sifat yang kekerasan terhadap tentang masalah keagamaan.” Kita di Indonesia ini ada beberapa agama, agama itu rahmat in alamin itu bagi Islam tidak ada sifatnya kekerasan itu diantaranya. Dalam bingkai bhenika Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi kita tetap satu. Ada disebut perbedaan budaya suku dan bangsa tetapi disini Kadang-kadang agama ini mengingatbudaya biasa bukan agama tetapi sesuatu yang haram. Saat ini kita harus jaga,” tegasnya.
Ketika disingung antara budaya dan keagaaman, Mahjumi menjelaskan memang agama dan budaya saudara seiring sejalan, kalau kita ambil dari agama begitu agama menginginkan adalah dunia atau masyarakat menginginkan adalah Damai.” Jadi kebudayaan juga demikian, beberapa budaya kan harus damai, harus bersatu jangan berpangku tangan berbuat baik tujuan adalah untuk menjaga kemaslahatan umat begitu. Di agama itu menganjurkan untuk berbuat baik masalah kemasyalatan. Dari kebudayaan juga begitu,” jelasnya..
Menyinggung sebenarnya tidak ada pemisahan antara keduanya, Muhjumi merinci Alhamdulilah, setelah kami gencar-gencarnya baru kami melaksanakan itu rakerda MUI Kabupaten Katingan, hari kamis Kemarin tentang masalah Radikal, jadi kami menginginkan bahwa di daerah ini, benar-benar aman
” Kebetulan disampaikan oleh Pak Kapolres waktu itu berhalangan di ganti dengan yang lain. Kedua disampaikan oleh MUI dari Provinsi. Kebetulan disampaikan semua kami undang hadir dari beberapa kecamatan waktu ngumpul menginginkan di daerah itu yang namanya radikal-radikal, kekerasan-kekerasan, kami dengan tim ko sisanya itu apakah itu Polda. Betul, alhamdullilah waktu kita ajak berbenturan dan kamo lihat sudah ada perwakilan di Polda masalah Kosidahan dengan sangat-sangat gembira dengan tujuan yang baik ini.,” rincinya
Saat ditanya Peran kasat intel bagaimana,. Kasat Intel Polres Kantingan, Ipda Feby Juni Handayani ditemui Masjid Al-muhajirin di Kantingan, Kamis(5/12) 2019 mengatakani kegiatan dari Polres Kantingan khususnya Sat intelkam selalu pelaksana program 4 tentang rutin radikal kita melakukan pertama penggalangan baik tokoh-tokoh agama, instansi terkait dan tokoh kepemudaan . “Kemudian kita melakukan edukasi yang kita laksanakan rutin bersama dengan tokoh pemuda dan tokoh agama karena berkaitan dengan radikal alhamdulilah sampai dengan saat ini untuk di Katingan sendiri belum terkait data pemetaan baik tokoh PNS maupun OKP terpapar radikal . Oleh karena itu kita rutin melaksanakan pertemuan seperti copy night, copy morning salah satunya sebagai bentuk FGD, forum berkaitan dengan radikal,” ujarnya..
Untuk itu, Feby menegaskan terkait dengan itu kita melakukan edukasi bahwasanya Radikal tidak hanya terpapar baik secara forum maupun pertemuan yang dulu dilakukan baik dengan media sosial. “Oleh karena itu kita mengarahkan khusus generasi tokoh pemuda, tokoh agama untuk mendukung dalam memberikan edukasi kepada arusnya bahwa radikal itu disampaikan forum namun media sosial lebih untuk berkapemberitaan keamanan dan teror itu harus satu pintu berkomunikasi dengan Pihak TNI Polri. Begitu juga pihak keamanan tidak hanya provokasi-provokasi yang terjadi berkaitan dengan inflasi,” tegasnya .
Menyoroti, itu Feby menandaskan Kalau di Kantingan, syukur alhamdulilah sampai sekarang belum ada. “Untuk edukasi pembinaan dan patroli seberapa dekat dengan konten menyangkut radikalisme. Kalau untuk konten-konten tentang Radikal di Kantingan belum ada. Kalau untuk pembinaan itu secara keseluruhan kita satukan dengan pertemuan rutin yang kita laksanakan bersama dengan tokoh kemudian dengan media sosial jaringan terkait Radikal,” tandasnya. (Vecky Ngelo)
