Harga Minyak Naik Ke Level Tertinggi
Jurnal123.com – Harga minyak naik lebih dari 1 persen ke tingkat tertinggi tahun ini pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB (21/2/2019), didorong harapan bahwa pasar minyak akan seimbang tahun ini. Kenaikan harga juga dipicu pengurangan produksi produsen utama serta sanksi AS terhadap anggota OPEC yakni Iran dan Venezuela.
Kekhawatiran pasar atas pembicaraan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok telah menekan harga minyak pada awal perdagangan. Namun pasar berbalik arah setelah ada tanda-tanda kemajuan perundingan perdagangan pada Rabu (20/2) sehingga memperkuat pasar ekuitas.
Presiden AS Donald Trump mengatakan negosiasi dengan Tiongkok berjalan baik. Dia menyatakan terbuka untuk memperpanjang tenggat waktu guna menyelesaikan lebih 1 Maret, ketika tarif impor Tiongkok senilai US$ 200 miliar dijadwalkan naik menjadi 25 persen dari 10 persen.
“Kami di pasar sedang menunggu berita utama berikutnya untuk mendorong emas lebih tinggi atau lebih rendah,” kata analis Price Futures Group Phil Flynn di Chicago seperti dikutip Reuters.
Ia menambahkan pembicaraan perdagangan AS-Tiongkok menjadi fokus para pelaku pasar.
Patokan internasional, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April naik 63 sen AS atau 0,95 persen, menjadi US$ 67,08 per barel. Minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret ditutup di US$ 56,92 per barel, naik 83 sen AS atau 1,48 persen, menjelang berakhirnya kontrak.
Sementara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen lainnya, termasuk Rusia – sepakat mengurangi pasokan minyak sebesar 1,2 juta barel per hari mulai 1 Januari tahun ini.
Menteri Energi Saudi Khalid al-Falih berharap pasar minyak akan seimbang pada April, dan tidak akan ada kesenjangan pasokan karena sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela.
“Anda bisa menganggap itu sebagai sinyal bahwa Arab Saudi akan terus mengambil pendekatan proaktif,” kata Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, di Houston.
Perusahaan minyak negara Saudi, Aramco, pekan lalu menutup sebagian ladang minyak lepas pantai Safaniyah setelah kabel listrik terputus secara tidak sengaja. Produksi di ladang El Sharara yang diperebutkan Libya telah dihentikan sejak Desember.
Sanksi-sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela juga telah membantu mengurangi ketersediaan minyak mentah di pasar global.
Namun, kenaikan harga minyak dibatasi oleh ekspektasi peningkatan persediaan di AS setelah terjadi penurunan tajam dalam pemanfaatan kapasitas kilang di Midwest AS. Persediaan minyak mentah AS diperkirakan telah meningkat sebesar 3,1 juta barel pekan lalu, kenaikan mingguan kelima berturut-turut, sebuah jajak pendapat Reuters menunjukkan.(BES)
