Kapolri : Ancaman Kelompok Bersenjata Akibat Tidak Ada Kesejahteraaan Masyarakat Pegunungan

Jurnal123.com – Terkait dengan ancaman Kelompok Bersenjata melakukan penembakan di Nduga menelan korban 19 orang dan 1 anggota TNI, sebenarnya ini untuk memacing ada perlawanan keras sehingga bisa menjadi isu Nasional dan Isu Internasional ada pelanggaran HAM, Ini terjadi karena tidak adanya kesejahteraan ekonomi bagi masyarakat didaerah pegunungan Nduga. Seiring dilakukan pembangunan jembatan oleh PT oleh Istaka Karya dan itu sesuai perintan Presiden bersikeras membangun Trans Papua sehingga masyarakat dapat memiliki kesejahteraan ekonomi.
Kapolri, Jenderal Tito Karnavian di acara rilis Tahunan di Mabes Polri, Kamis(27/12)2018 mengatakan Nduga adalah kelompok bersenjata disana pimpinannya Tegianus Togoya mereka pada waktu itu kelompok lama ada peristiwa paduma dulu itu bagian dari Nduga.” Nduga ibukotanya di Kenyam. Ini gangguan utana pada Pilkada lalu mereka menguasai daerah Kenyam ketika ada pesawat akan turun lagi pesawat sipil sehingga kita merespon pasukan Polri dan TNI terjadi kontak senjata disana ada anggota kita yang terluka dan ada mereka ada yang meninggal,” ujarnya.
Selanjutnya, Tito menegaskan setelah Kenyam kita yang kuasai Polri TNI operasi dari gunung ke gunung , dari bukit ke bukit dan hutan ke hutan terakhir terdeteksi mereka ada di daerah Iggi karena mereka bergerak terus kemudian terjadi pembangunan oleh PT Istaka karya selama ini PT ini sudah membangun juga dengan tokoh masyarakat setema. “Tetapi ini tanggal 1 Desember hari penting bagi kelompok-kelompok ini karena bagi mereka hari deklarasi kemerdekaan. Mereka melakukan aksi paling ringan pengibaran bendera tetapi paling tidak kalau bisa menyerang, kalau bisa yang diserang Polri TNI,” tegasnya.
Untuk itu, Tito menjelaskan engga bisa pendatang itu lah tujuannya mengeksploitasi sehingga menjadi isu nasional dan isu internasional. Mereka berhasil menjadi isu nasional dan internasional kadang-kadang kita ikut genderang mereka sehingga menjadi isu nasional dan isu internasional itu lah tujuannya. “Setelah itu kemana dialog ,syukur lah kalau melibatkan pihak ketiga itu tujuannya menghadapai tujuan seperti ini kita jangan ikut genderang mereka yang kita lakukan tetaplah langkah-langkah penegakan hukum secara terbatas tetapi proses pembangunan harus jalan terus,” jelasnya.
Seiring dengan itu, Tito merinci Kita lihat yang terjadi kekerasan ini ada digunung diantara Nduga ini kan satu barisan,wamena, Pucak jaya, Lani Jaya, Jelimo, Kabupaten Punjak, Mambro Tengah, itu daerah gunung masih ada kelompok bersenjata. Namanya kelompok pegunungan Tengah bagian barat itu ada 4 kabupaten Dengai Donggai, Paniai dan Puncak jaya. “Kita hafal betul siapa saja kelompok-kelompok itu dimana. Otletnya untuk melakukan penegakan hukum mereka kalau kita lakukan penindakan keras akar masalah utamanya. Kalau teman-teman dari Papua berbeda, Kalau saya akar masalah utama Kesejateraan di daerah lain kenapa tidak di kepala Burung sudah maju kenapa tidak,” rincinya.
Lebih lanjut, Tito membeberkan dulu gerakan kemerdekaan paling kuat muncul di Manukuari, sekarang Manukuari tran sudah bagus. Biak Seruni tidak dan dulunya banyak gerakan kemerdekaan sekarang tidak ada karena kesejahteran meningkat.. “Problema yang ditengah Pegunungan mereka adalah ekonomi. Karena terisolasi hanya pesawat udara yang bisa masuk kesana. Oleh karena itu Presiden berkeras untuk membangun trans Papua yang bisa mengkonek seluruh papua melintasi pegunungan ini.Sehingga logisitk biaya ekonomi akan menjadi rendah. Bayangin satu bungkus idomie berapa Rp 5000 disana bisa menjadi Rp 50.000. Sementara Semen di Jawa Rp 70.000 disana Rp 1,5 Juta,” bebernya.
Oleh karena itu, Tito mengakui Trans Papua maka akan murah. Persoalannya kenapa diserang kenapa tanggal 1 Desember untuk memancing targetnya bagaimana ini bisa menjadi isu Nasional dan Isu Internasional setelah itu digoreng sehingga kemerdekaannya keluar. Dalam rangka untuk membaut gerakan itu aktif. dan”Yang ketiga adalah memancing terjadi aksi eksesif.akibat tindakan balasan dari pemerintah.aksi eksesif ini nanti buat gorengan baru pelanggaran HAM oleh pemerintah Indonesia.tujuan kesana oleh karena itu kita memang kita harus menarik benang di dalam tepung tidak boleh bertindak emosional kita lakukan langkah-langkah penegakan hukum terbatas persoalannya adalah medan yang berat, hutan yang lebat,gunung yang tinggi “, akunya.
Seiring dengan itu, Tito mengungkapkan tapi khusus Natal dan Tahun baru saya perintahkan Jajaran Polri Coling Down adalah gencetan Senjata karana Natal dan Tahun Baru itu masyarakat disana sangat menghargai gereja , kalau Natal dan Tahun Baru sama-sama tidak boleh main. Saya kira begitu, Selama disana tidak ribut jangan disini kejar-kejar entar kalau selesai tahun baru karena sensitif kalau Natal dan tahun baru dilakukan operasi langkah penegakan hukum yang keras.” Apalagi ada korban mudah sekali digoreng. Yang kita lakukan sekarang adalah kita tetap melakukan langkah pendekatan kepada tokoh masyarakat seperti disana ada Natal bersama jadi aksi terorisme integensi itu didalam dikenal dalam ilmu strategi adalah perang merebut simpati publik. Siapa yang mampu merebut simpati publik disana dan kelompok ini ada tapi lama-lama akan menghilang sendiri,” ungkapnya.
Itu sebabnya, Tito menandaskan sebaliknya kalau kita bertindak keras kita akan menang tetapi kita akan berbahaya kalah dengan menunjukan secafa power yang kita lakukan adalah memang seolah-olah kita kalah dilapangan. “Publik memberikan simpati kepada kita.itu Startegi besarnya. Intinya trans papua yang dibangun itu kasih orang membangun jembatan untuk kepentingan masyarakat Papua. Ini mereka kejam terus mau disebutkan apa juga pengunaan kekerasan tidak bisa di toleransi. Ada perang propaganda sekarang. Sadar engga sadar perang propaganda itu,” tandasnya.(Vecky Ngelo)
