Kudeta Militer di Myanmar Tewaskan 231 Orang

Jurnal123.com || Myanmar – Aksi unjuk rasa yang terjadi di Myanmar terus menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit. Pada Jumat (19/3/2021) jumlah kematian dari para pengunjuk rasa anti-kudeta militer Myanmar telah mencapai 231, sejak penggulingan pemerintahan sipil yang terpilih pada 1 Februari.

Melansir The Irrawaddy pada Jumat (19/3/2021), setidaknya ada 11 orang yang dibunuh oleh junta militer di negara bagian Shan selatan, Yangon, dan Mandalay.

Jumlah itu diperkirakan akan terus meninigkat karena banyak korban lainnya yang mengalami luka parah karena tindakan keras junta militer dalam aksi protes massa pro-demokrasi.

Di Aungban yang letaknya di selatan negara bagian Shan, setidaknya ada 8 orang ditembak mati, ketika para tentara dan polisi melepaskan tembakan langsung ke kerumunan massa yang memprotes kudeta.

Sejumlah demonstran juga mengalami luka parah selama penembakan berlangsung.
Tembakan dimulai pukul 09.00 waktu setempaat pada Jumat (19/3/2021) dan tidak berhenti hingga malam.

Orang-orang berpakaian preman termasuk di antara pasukan keamanan yang menembakki massa, menurut laporan penduduk setempat.

Seorang pria ada yang ditembak di kepala diseret oleh tentara dan polisi, sebelum dia dapat diidentifikasi oleh peserta protes lainnya. Hanya meninggalkan jejak darah di jalan.

Sekitar 20 pengunjuk rasa ditangkap dan banyak dari mereka terluka.

Di ibu kota negara bagian Kayah, seorang bidan 47 tahun, U Shan Pu ditembak dengan peluru tajam dalam tindakan keras terhadap massa anti-kudeta oleh tentara dan polisi Myanmar.

Menurut seorang pekerja sosial yang berbasis di Loikaw, bidan tersebut adalah korban meninggal terakhir pada jam 14.00 waktu setempat. Beberapa pengunjuk rasa ditangkap.

Seorang pria berusia 27 tahun, Aung Ko Ko Khant dari Myingyan di wilayah Mandalay juga meninggal, pada Jumat pagi waktu setempat.
Ia meninggal setelah wajahnya ditembak pada 15 Maret oleh aparat keamanan Myanmar.

Dalam tindakan keras pada Senin (15/3/2021), 6 pengunjuk rasa, termasuk 4 remaja, tewas dan beberapa orang luka-luka.

Meskipun junta militer terus berupaya untuk meneror pengunjuk rasa dengan kekerasan dan penyiksaan, demonstrasi anti-kudeta terus berlanjut di beberapa kota.

Di Yangon, yang telah menyaksikan jumlah kematian tertinggi di seluruh negeri sejak kudeta 1 Februari, pengunjuk rasa muda kembali ke jalan pada Jumat (19/3/2021) dan melakukan lebih banyak protes terhadap rezim militer yang represif.

Sejumlah pengunjuk rasa terluka di kota Thaketa ketika pasukan keamanan melepaskan tembakan dan penghalang jalan dilibas dengan buldoser.

Di KyaukMyaung, aparat keamanan junta juga menggunakan tembakan dan gas air mata untuk membubarkan massa. Penduduk setempat mengatakan setidaknya 10 orang ditangkap.

Para tentara dan polisi juga masuk ke beberapa rumah di Dagon Selatan pada malam hari waktu setempat.

Penduduk setempat melaporkan setidaknya 2 warga ditembak. Satu orang tewas di tempat setelah ditembak di kepala.

Pasukan keamanan junta juga menangkap warga-wara sipil di banyak kota, memaksa mereka untuk menghilangkan penghalang jalan. Beberapa ditendang dan dipukuli.
Dalam video yang diambil oleh seorang jurnalis warga di kota Tamwe, tentara dan polisi dengan sengaja mempermalukan seorang pria, dengan memerintahkan dia untuk merangkak di sepanjang jalan.

Duta besar internasional untuk Myanmar mengatakan dalam sebuah pernyataan bersama bahwa kekerasan brutal terhadap warga sipil tak bersenjata oleh pasukan keamanan di Hlaing Tharyar dan tempat lain di Myanmar.

Seringkali junta militer menggunakan tindakan tidak bermoral dan tidak pantas untuk mendapatkan pembelaan.
“Kami menyerukan kepada militer Myanmar untuk menghentikan semua kekerasan terhadap rakyat Myanmar, membebaskan semua tahanan, mencabut darurat militer dan keadaan darurat nasional, menghapus pembatasan telekomunikasi serta memulihkan pemerintah yang dipilih secara demokratis,” demikin bunyi pernyataan tersebut.(IRA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *