Nusantara

Strategi Amankan Demo, Polda Yogyakarta Tak Tampilkan Brimob dan Water Cannon

Tampak Kapolda Daerah Istimewa Yogjakarta, Irjend Pol Ahmad Dofiri saat memberikan penghargaan kepada Babinkantibmas, Kerala Desa dan Babinsa di Lapangan Upacara Kapolda DIY, Kamis(10/10) 2019.(Vecky Ngelo)

Jurnal123.com – Dalam penangan aksi demontrasi di wilayah  di Daerah Isimewa Yogyakarta , ternyata Polda DIY DIY punya strategi dengan melakuka pendekatan  untuk mencegah demo berujung ricuh dengan tidak Tampilkan Brimob dan Water Cannon

Kapolda DIY Irjen Pol Ahmad Dofiri ditemui di Polda Daerah Istimewa  Yogjakarta, Kamis (10/10)2019 mengatakan Polda DIY memiliki pendekatan yang cenderung berbeda dalam penanganan aksi demonstrasi di wilayah lainnya.” Pasalnya dengan memiliki strategi agar water cannon maupun pasukan Brimob tidak terlihat untuk mencegah demo berujung ricuh,” ujarnya.

Sementara itu, ,Direktur Bina Masyarakat (Dirbinmas) Polda DIY, Kombes Pol Rudi Heru Susanto, saat ditemui di Mapolda DIY, Yogyakarta mengatakan  Polda DIY ada keistimewaan karena ada kerajaan. Kemudian tipikal masyarakat di sini santun dan beradab. Jadi sebenarnya tak perlu menampilkan seperti misalnya water canon berhadapan-hadapan dengan mahasiswa,” ujarnya.

Selanjutnya, Rudy menjelakan  Beliau menyatakan kekuatan polisi dalam pengamanan demo mahasiswa, water canon dan pasukan brimob itu tersembunyi.” Tidak nampak sehingga tidak menjadikan mahasiswa untuk anarkis,” jelasnya.

Dari data yang dihimpun, aksi unjuk rasa #GejayanMemanggil pertama kali digelar pada Senin (23/9/2019), dan berjalan tertib. Aksi itu digelar untuk menolak UU KPK hasil revisi dan RKUHP.  Kemudian, aksi #GejayanMemanggil2 pada Senin (30/9/2019) juga berjalan lancar. Aksi kedua salah satunya memprotes tindakan represif aparat saat mengamankan aksi.

Lebih lanjut,  Rudi menegaskan  meyakini bahwa aksi tersebut tidak disusupi, misalnya oleh kelompok radikal tertentu. “Saya berani berkata tidak ada (yang menyusup) karena semuanya pakai atribut. Dari kampus juga ada yang dampingi,” tegasnya.

Jadi, Rudi mengungkapkan  berdasarkan laporan intelijen, di tahun 2016 daerah Yogyakarta rawan oleh potensi kelompok radikal. Namun, Kapolda, katanya, juga telah melakukan pendekatan kepada tokoh agama, tokoh masyarakat, serta pihak kampus. “Tahun 2016 berdasarkan laporan intelijen, Yogyakarta rawan. Dan akan disusupi dari sisi kampus. Pak Kapolda intens ke kampus menyuarakan radikalisme dan selalu cinta Pancasila sehingga sekarang penurunan signifikan sehingga pas demo santun,” ungkapnya.(Vecky Ngelo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ruangwd ruangwd arena303 arena303 arena303