Tomohon

Produksi 51,6 Ton Sampah per Hari, Tomohon Fokus Benahi Sistem Pengelolaan Terpadu

Tomohon, Jurnal123.com – Pemerintah Kota Tomohon terus memperkuat langkah menuju kota berkelanjutan melalui pelaksanaan Workshop Zero Waste Lifestyle for Tomohon City yang digelar di Command Center Pemerintah Kota Tomohon, Selasa (24/02/2026). Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Wali Kota Tomohon Caroll J. A. Senduk bersama Wakil Wali Kota Sendy G. A. Rumajar, serta menghadirkan narasumber dari UN-HABITAT, yakni Urban Development Expert Mr. Sovanarith Sieng dan Local Project Officer Indonesia Ibu Mula Pralampita Nursetianti.

Dalam sambutannya, Wali Kota menjelaskan bahwa Kota Tomohon saat ini terlibat dalam Proyek ASUS Tahap II atau Accelerating the Implementation of the ASEAN Sustainable Urbanisation Strategy Phase II. Program ini merupakan kelanjutan dari tahap sebelumnya yang bertujuan mempercepat implementasi ASEAN Sustainable Urbanisation Strategy di kota-kota menengah dan sekunder. Inisiatif tersebut juga menjadi bagian dari tindak lanjut Master Plan on ASEAN Connectivity 2025 yang telah diluncurkan sejak 2018 untuk menjawab berbagai tantangan urbanisasi di kawasan Asia Tenggara.

Wali Kota menegaskan bahwa tantangan urbanisasi semakin kompleks di tengah pertumbuhan populasi, perubahan iklim, serta meningkatnya tekanan terhadap sumber daya alam. Pengelolaan sampah, sanitasi, dan akses air bersih menjadi isu yang sangat mendesak dan membutuhkan penanganan yang sistematis serta berkelanjutan. Apabila tidak dikelola dengan baik, persoalan tersebut berpotensi mengancam kesehatan masyarakat, kualitas lingkungan hidup, serta ketahanan kota secara keseluruhan.

Sebagai salah satu kota yang terpilih dalam program ASUS dan telah mengikuti ASEAN Sustainable Urbanisation Forum di Kuala Lumpur pada Agustus 2025, Kota Tomohon menetapkan fokus utama pada sektor pengelolaan sampah dalam rangka mendukung target nasional Indonesia Bebas Sampah 2029. Saat ini, pengelolaan sampah masih terpusat di TPA Regional Tara-Tara seluas 5,3 hektar. Meski dirancang sebagai sanitary landfill, praktik di lapangan masih berupa open dumping dan instalasi pengelolaan lindi belum berfungsi secara optimal.

Produksi sampah Kota Tomohon tercatat sekitar 51,6 ton per hari dengan komposisi sekitar 70 persen berupa sampah organik yang belum terkelola secara maksimal. Pemerintah Kota Tomohon terus mendorong berbagai upaya perbaikan melalui penguatan program PPSOT, pengembangan integrated farming di Kelurahan Kakaskasen, serta community composting yang saat ini menjadi proyek percontohan di Kelurahan Tara-Tara Raya. Program-program tersebut diharapkan dapat diterapkan secara menyeluruh di setiap kelurahan.

Di sisi lain, Wali Kota juga mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, mulai dari kurangnya koordinasi lintas sektor, belum terintegrasinya perangkat daerah dan komunitas secara sistematis, perlunya penguatan landasan kebijakan formal, belum terpadu dan validnya data persampahan, hingga keterbatasan anggaran. Melalui ASUS Tahap II, Kota Tomohon akan menyelesaikan City Technical Proposal dengan memvalidasi City Diagnostic Report dan merumuskan visi kota secara kolaboratif bersama seluruh pemangku kepentingan.

Workshop ini turut dihadiri Ketua DPRD Kota Tomohon Ferdinand Mono Turang, S.Sos., Ketua TP-PKK Kota Tomohon drg. Jeand’arc Senduk-Karundeng, jajaran Pemerintah Kota Tomohon, akademisi, peneliti, pemerhati lingkungan, praktisi pengolahan sampah, serta berbagai organisasi non-pemerintah. Pemerintah Kota Tomohon berharap melalui kegiatan ini akan lahir rekomendasi konkret yang dapat segera diimplementasikan demi mewujudkan Tomohon sebagai kota yang bersih, hijau, dan sehat dengan budaya zero waste yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *