Category Archives: Profil

SBY dan Cerita Terakhir Ani Yudhoyono Sebelum Meninggal

Selamat Jalan Ibu Ani. Beristirahatlah Dalam Damai

Jurnal123.com – Presiden Ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menceritakan kondisi terakhir Ibu Negara RI Periode 2004-2014 Kristiani Herrawati atau Ani Yudhoyono, sebelum meninggal di National University Hospital (NUH), Singapura, pada Sabtu, 1 Juni 2019 siang.

“Saya ucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Bapak Presiden Jokowi beserta istri dan hadirin sekalian yang bersedia hadir untuk menyampaikan rasa duka atas meninggalnya istri saya tercinta, Ani Yudhoyono,” kata SBY di kediamannya, di Puri Cikeas, Bogor, Sabtu malam, mengutip Antara.

Pernyataan itu disampaikannya di hadapan Presiden Jokowi yang datang bertakziah untuk mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Ani Yudhoyono.

SBY menjelaskan memang benar sekitar tiga pekan lalu, sebelum kondisi kritis, perkembangan kesehatan Ani sangat positif, bahkan ada harapan bisa disembuhkan.

Saat itu, menurut SBY, tim dokter mengatakan sel-sel kanker dalam tubuh Ani menurun secara tajam, sehingga itu yang membuat pihak keluarga bersyukur dan berharap agar penyakit kanker darah Ani bisa disembuhkan.

“Namun Allah menetapkan lain, tiga hari lalu tiba-tiba ada ledakan sel-sel kanker yang sebelumnya sudah dilumpuhkan, namun meningkat sangat tajam sehingga tim dokter kewalahan sehingga masuk ICU dengan perlakuan khusus,” ujarnya.

Dia mengatakan, dirinya selama dua hari dua malam menemani Ani Yudhoyono untuk berjuang melawan kanker ganas.

Menurut dia, perawat di NUH mengatakan bahwa Ani Yudhoyono merupakan perempuan yang kuat karena semestinya sudah kembali kepada Yang Maha Kuasa karena kerasnya hantaman kanker yang menyerang berbagai organ tubuh, namun masih tetap bisa bertahan.

Dia mengatakan sampai satu jam sebelum dipanggil, dirinya sampaikan kepada Ibu Ani dengan kata-kata indah, saat itu dibius total sehingga tidak mudah berkomunikasi, namun SBY lihat pelupuk matanya ada titik-titik air mata.

“Karena mungkin orang-orang yang disayangi itu masuk dalam hati dan pikirannya. Kami katakan ‘memo, kami semua ada di sini’, air mata yang jatuh adalah air mata cinta, air mata sayang,” katanya.

SBY mengatakan wajah Ibu Ani terlihat bahagia dan rileks dan beberapa saat kemudian, dengan sangat tenang Ani kembali kepada Sang Pencipta.

Menurut dia, Ani pernah mengatakan bahwa dirinya pasrah, namun tidak mau menyerah sampai batas yang bisa dicapainya.(ANT)

Pemilu 2019 : Update Real Count KPU Sementara Jokowi-Ma’ruf Kini Kuasai 56,12% Dari 34,35% Suara Terkumpul


Foto: Hasil Hitung Suara Presiden dan Wakil Presiden 18.30 WIB (25/4/2019) (dok. KPU)

Jurnal123.com – Komisi Pemilihan Umum (KPU) terus melaporkan hasil hitung suara Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden RI 2019. Sampai dengan Kamis (25/4/2019) pukul 18.30 WIB, suara sudah terkumpul dari 279.450 dari total 813.350 tempat pemungutan suara (TPS) alias 34,35%. 

Berdasarkan data Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) KPU, pasangan capres dan cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin unggul dengan raihan 56,12% atau 29.476.799 suara. Sedangkan pasangan capres dan cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno hanya memperoleh 43,88% atau 23.046.233 suara. 

Jawa Tengah menjadi penyumbang suara terbesar bagi pasangan Jokowi-Amin dengan raihan 6.217.809 suara. Disusul kemudian oleh Jawa Timur dengan 3.969.926 suara dan Jawa Barat 1.955.581 suara. 

Sebagai informasi, Situng hanya mempercepat proses informasi. Melalui Twitter resmi, KPU menegaskan bahwa Situng membantu menjadi alat kontrol, namun bukan hasil resmi yang ditetapkan KPU.

“Hasil resmi ditetapkan oleh KPU secara berjenjang dalam rapat pleno terbuka dan dituangkan dalam berita acara,” tulis KPU, Kamis (18/4/2019).

Untuk hasil resmi pemilu 2019 diumumkan paling lama 35 hari (UU No.7 Tahun 2017). Perkembangan terkini real count KPU dapat diakses melalui https://pemilu2019.kpu.go.id/#/ppwp/hitung-suara/

Sumber : KPU

Media Internasional Tempatkan Jokowi Sebagai Pemimpin Paling Populer di Dunia

Media Online Gzeromedia


Jurnal123.com – Sebuah media online internasional, Gzeromedia.com, menobatkan Presiden RI Joko Widodo sebagai pemimpin terpilih paling populer di dunia. Jokowi berada di urutan teratas setelah Presiden Rusia Vladimir Putin dan Perdana Menteri India Narendra Modi.

Gzeromedia.com menyebutkan berdasarkan hasil survei, Presiden Jokowi mendapat skor tertinggi sebesar 71 persen. Sementara Putin mengantongi skor 64 persen. Disusul Modi dengan skor penilaian 63 persen.

Selain ketiga tokoh dunia ini, ada nama-nama pemimpin lain seperti Kanselir Jerman Angela Markel, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, hingga Perdana Menteri Inggris Theresa May.(BES)

Kisah dan Kontroversi Seputar Kehidupan RA Kartini

Hari Kartini

Jurnal123.com – Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Hari Kartini juga diperingati sebagai bentuk penghormatan pada tokoh perempuan bernama Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini yang telah berjuang untuk mendapatkan kesetaraan hak perempuan dan laki-laki di masa lalu.

Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini juga dikenal sebagai tokoh emansipasi wanita.

Kisah RA Kartini juga menjadi inspirasi bagi banyak orang, khususnya bagi kaum wanita.

Yang tak kalah menarik, kisah RA Kartini juga ternyata masih diliputi sejumlah kontroversi.

Berikut beberapa hal tentang RA Kartini yang sudah dirangkum dari wikipedia dan berbagai sumber lainnya.

Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini

Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini lahir di Jepara, Hindia Belanda, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Hindia Belanda, 17 September 1904 pada umur 25 tahun)

Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia.

Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Biografi

Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini berasal dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa.

Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara segera setelah Kartini lahir.

Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama.

Ibunda Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.

Dari sisi ayahnya, silsilah Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI.

Garis keturunan Bupati Sosroningrat bahkan dapat ditilik kembali ke istana Kerajaan Majapahit.

Semenjak Pangeran Dangirin menjadi bupati Surabaya pada abad ke-18, nenek moyang Sosroningrat mengisi banyak posisi penting di Pangreh Praja.

Ayah Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong.

Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan.

Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura.

Setelah perkawinan itu, maka ayah Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.

Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri.

Dari semua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua.

Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun dan dikenal pada pertengahan abad ke-19 sebagai salah satu bupati pertama yang memberi pendidikan Barat kepada anak-anaknya.

Kakak Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa.

Sampai usia 12 tahun, Raden Ajeng Kartini atau RA Kartinidiperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School).

Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

Karena Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda.

Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya.

Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa.

Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan).

Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie.

Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie.

Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan.

Kadang-kadang Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat.

Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tetapi juga masalah sosial umum.

Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas.

Di antara buku yang dibaca Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali.

Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus.

Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.

Dijodohkan orangtua

Oleh orangtuanya, Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini dijodohkan dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri.

Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903.

Suaminya mengerti keinginan Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, Soesalit Djojoadhiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904.

Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini meninggal pada usia 25 tahun.

Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Berkat kegigihannya Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya.

Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”.

Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

Kontroversi

Ada kalangan yang meragukan kebenaran surat-surat Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini.

Ada dugaan J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan saat itu, merekayasa surat-surat Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini.

Kecurigaan ini timbul karena memang buku Ajeng Kartini atau RA Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis.

Hingga saat ini pun sebagian besar naskah asli surat tak diketahui keberadaannya.

Menurut almarhumah Sulastin Sutrisno, jejak keturunan J.H. Abendanon pun sukar untuk dilacak Pemerintah Belanda.

Penetapan tanggal kelahiran Ajeng Kartini atau RA Kartini sebagai hari besar juga agak diperdebatkan.

Pihak yang tidak begitu menyetujui, mengusulkan agar tidak hanya merayakan Hari Kartini saja, namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember.

Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya, karena masih ada pahlawan wanita lain yang tidak kalah hebat dengan Kartini seperti Cut Nyak Dhien, Martha Christina Tiahahu, Dewi Sartika dan lain-lain.

Menurut mereka, wilayah perjuangan Ajeng Kartini atau RA Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah.

Sikapnya yang pro terhadap poligami juga bertentangan dengan pandangan kaum feminis tentang arti emansipasi wanita.

Dan berbagai alasan lainnya.

Pihak yang pro mengatakan bahwa Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja, melainkan adalah tokoh nasional; artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya.

Cara pikirnya sudah melingkupi perjuangan nasional.

Kematian Kartini yang mendadak juga menimbulkan spekulasi negatif bagi sebagian kalangan.

Seperti diketahui dalam sejarah, Kartini meninggal pascamelahirkan, tepatnya 4 hari setelah melahirkan.

Ketika Kartini, mengandung bahkan sampai melahirkan, dia tampak sehat walafiat. Hal inilah yang mengandung kecurigaan.

Efatino Febriana, dalam bukunya “Kartini Mati Dibunuh”, mencoba menggali fakta-fakta yang ada sekitar kematian Kartini.

Bahkan, dalam akhir bukunya, Efatino Febriana berkesimpulan, kalau kartini mamang mati karena sudah direncanakan.

Demikian pula Sitisoemandari dalam buku “Kartini, Sebuah Biografi”, menduga bahwa Kartini meninggal akibat permainan jahat dari Belanda.

Permainan jahat dari Belanda ingin agar Kartini bungkam dari pemikiran-pemikiran majunya yang ternyata berwawasan kebangsaan.

Ketika Kartini melahirkan, dokter yang menolongnya adalah Dr van Ravesten, dan berhasil dengan selamat.

Selama empat hari pascamelahirkan, kesehatan Kartini baik-baik saja. Empat hari kemudian, dr van Ravesten menengok keadaan Kartini, dan ia tidak khawatir akan kesehatan Kartini.

Ketika Ravesten akan pulang, Kartini dan Ravesten menyempatkan minum anggur sebagai tanda perpisahan.

Setelah minum anggur itulah, Kartini langsung sakit dan hilang kesadaran, hingga akhirnya meninggal dunia. Sayang, saat itu tak ada autopsi.

Meski demikian, pihak keluarga tidak mempedulikan desas-desus yang muncul terkait kematian Kartini, melainkan menerima peristiwa itu sebagai takdir Yang Mahakuasa.

Sementara pendapat yang berbeda yang dinyatakan oleh para dokter modern di era sekarang.

Para dokter berpendapat Kartini meninggal karena mengalami preeklampsia atau tekanan darah tinggi pada ibu hamil.

Namun hal ini juga tidak bisa dibuktikan karena dokumen dan catatan tentang kematian Kartini tidak ditemukan.

Nama jalan di Belanda

– Utrecht: Di Utrecht Jalan R.A. Kartini atau Kartinistraat merupakan salah satu jalan utama, berbentuk ‘U’ yang ukurannya lebih besar dibanding jalan-jalan yang menggunakan nama tokoh perjuangan lainnya seperti Augusto Sandino, Steve Biko, Che Guevara, Agostinho Neto.

– Venlo: Di Venlo Belanda Selatan, R.A. Kartinistraat berbentuk ‘O’ di kawasan Hagerhof, di sekitarnya terdapat nama-nama jalan tokoh wanita Anne Frank dan Mathilde Wibaut.

– Amsterdam: Di wilayah Amsterdam Zuidoost atau yang lebih dikenal dengan Bijlmer, jalan Raden Adjeng Kartini ditulis lengkap. Di sekitarnya adalah nama-nama wanita dari seluruh dunia yang punya kontribusi dalam sejarah: Rosa Luxemburg, Nilda Pinto, Isabella Richaards.

– Haarlem: Di Haarlem jalan Kartini berdekatan dengan jalan Mohammed Hatta, Sutan Sjahrir dan langsung tembus ke jalan Chris Soumokil presiden kedua Republik Maluku Selatan.

(TRI)

Inilah Sosok Pilihan Iwan Fals dalam Pilpres 2019

Iwan Fals


Jurnal123.com – Musikus Iwan Fals mengumumkan sosok yang ia pilih di Pilpres 2019.

Iwan Fals diketahui sempat berjanji akan melakukan hal tersebut di 15 April 2019.

Janji Iwan Fals itu terucap pada Minggu (7/4/2019) silam di media sosial Twitternya yang telah terverifikasi.

Akun Iwan Fals


Kala itu Iwan Fals memberikan kisi-kisi siapa sosok yang akan ia pilih diajang 5 tahunan itu.

Sosok tersebut menurut Iwan Fals gemar bekerja, anggun, beribawa, dan memiliki pribadi yang sederhana.

Iwan Fals bahkan mengaku jatuh cinta kepada sosok itu setiap harinya.

“Oh ya ada yang nanya ada apa dengan tanggal 15042019.

Insyaallah tanggal itu adalah tanggal keramat, tanggal saya tentukan seorang pemimpin, yang senang bekerja, anggun, berwibawa dan tentu saja sederhana, juga pandai menata.

Aku jatuh cinta padanya, setiap saat,” tulis Iwan Fals.

Kicauan Iwan Fals saat itu langsung viral, penggunan Twitter ramai-ramai menduga siapa sosok yang dimaksud Iwan Fals.

Sebagain besar menganggap sosok yang akan dipilih Iwan Fals di Pilpres 2019, adalah calon presiden nomor urut 01, Jokowi.

Menepati janji, Iwan Fals memamerkan foto dirinya bersama sosok yang akan dia pilih di Pilpres 2019.

Iwan Fals menyebut sosok itu adalah pemimpimnya.

“H-0 ini pemimpinku (emoji cium),” tulis Iwan Fals di akun twitternya, pada Senin (15/4/2019).

Pasalnya yang dipilih Iwan Fals di Pilpres 2019, bukan Jokowi maupun Prabowo, melainkan sang istri, Rosanna.

Iwan Fals Bersama Istri Rosana


Di foto tersebut Iwan Fals tampak merangkul Rosanna mesra.

Ia dan Rosanna terlihat kompak tersenyum ke arah kamera.

“Betul pemimpin itu sepasang ada ibu dan bapak..”

“Maksudnya milih pemimpin yang bisa mempertahankan kelurganya utuh.. gitu ya bang”

“Cuma penasaran aja sih, makanya nungguin. Dan ternyata ini toh bocoran tanggal 15 keramat itu.”

“Tindakan yang sangat tepat om!”

“Wuaakakakakaaak…nunggu pake lame, ternyata.”

Tak cuma berseloroh soal pertemuan Jokowi dan habib, Iwan Fals juga mengunggah sebuah foto yang mengocok perut.

Pantauan foto tersebut memperlihatkan dua sosok pria yang wajahnya mirip dengan Jokowi dan Prabowo.

Dua orang pria itu tengah duduk dan tertidur.

Iwan Fals mengatakan dua sosok di foto itu lelah sehabis berkampanye selama berbulan-bulan.

Menurut Iwan Fals keduanya berusaha menenangkan diri sebelum masa pencoblosan, 17 April 2019 mendatang.

“H-1…capek habis kampanye ber-bulan2, tenangin diri dulu buat nyoblos ntar..,” tulis Iwan Fals.

Candaan Iwan Fals itu rupanya menarik perhatian pengguna Twitter.

“Bisa aja nih bang iwan hiii”

“Nemu aja nih, bang Iwan…(emoji tertawa)”

“hahahahaha hahahah”

“Hahahaha..bisa aje ente”

“Lucu….hmmm sepertinya mirip….hihihi….Ko bisa ya….?”

“Pagi bang.. bisa aje… numpang ngakak pagi-pagi”

(TRI)

 

Michael Umbas Ajak Masyarakat Tidak Golput dan Lawan Hoax

Michael Umbas

Jurnal123.com – Di masa tenang jelang pesta demokrasi yang akan berlangsung beberapa hari lagi, Wakil Kepala Rumah Aspirasi Jokowi-Amin, Michael Umbas mengucapkan rasa terimakasihnya kepada relawan, simpul-simpul jaringan, termasuk tokoh-tokoh partai Koalisi Indonesia Kerja yang senantiasa selalu meramaikan dan mendukung pasangan Jokowi-Amin pada masa kampanye.

Umbas mengungkapkan bahwa, selama masa kampanye, tidak sedikit tenaga, waktu, materi dan, pikiran yang tercurahkan. “Dengan gotong royong dan satu tekad bulat, kita berhasil lewati itu. Permohonan maaf juga kami haturkan kepada pihak manapun jika ada kekeliruan sepanjang kampanye,” tuturnya kepada wartawan, di Jakarta kemarin.

Umbas juga mengucapkan rasa terimakasihnya atas perhatian dan dukungan rakyat Indonesia terhadap pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01. “Terima Kasih kami sampaikan kepada rakyat yang selalu antusias mengikuti kampanye Jokowi-Amin. Kepada segenap relawan, simpul-simpul jaringan, termasuk tokoh-tokoh partai Koalisi Indonesia Kerja,” ujarnya.

Selain itu, masa tenang Pemilu 2019 berlangsung pada 14-16 April 2019, Umbas juga meminta selama masa tenang tersebut untuk tidak golput dan bersama-sama melawan hoax. “Kami berharap tak ada kabar hoaks, isu-isu negatif yang menyudutkan satu sama lain muncul di ruang publik. Namun, jika masih ada, kita lawan dengan santun. Jangan ganggu pemilih untuk bersikap,” katanya.

Masa kampanye yang dimulai 23 September 2018, telah berakhir pada 13 April 2019. Spanduk, baliho, selebaran, iklan, janji-janji politik sudah kita baca, dengar, dan simak dari para para caleg DPR, DPRD provinsi, kabupaten/ kota, DPD, Capres dan Cawapres. Untuk itu, Umbas mengungkapkan sebagai warga negara yang baik dan memiliki hak pilih, sudah semestinya hadir ditempat pemungutan suara dan tidak golput.

“Kini, saatnya kita menentukan pilihan pada 17 April 2019. Jangan jadi golongan putih alias golput. Sebab golput sama artinya tidak mencintai masa depan bangsa dengan menihilkan kewajiban memilih yang terbaik.

Ingat persatuan selalu di atas segala-galanya,” pungkasnya.(FAJ/JIM)

Anggaran Pemilu 2019 Capai Rp 25 T, Disayangkan Jika Golput

Pengamat Politik Taufik Tumbelaka (Foto Istimewa/JE)

Jurnal123.com – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menganggarkan sebesar Rp 25,59 triliun untuk kegiatan pemilihan umum (Pemilu) serentak pada 17 April 2019. Angka ini naik 61% dibanding anggaran untuk Pemilu 2014 yang sebesar Rp 15,62 triliun.

“Berdasarkan data, alokasi anggaran untuk persiapan awal di tahun 2017 sekitar Rp 465,71 miliar. Kemudian pada 2018 (alokasi) mencapai Rp 9,33 triliun. Selanjutnya di 2019 ini, kita sudah menganggarkan sampai Rp 15,79 triliun. Jadi totalnya dalam 3 tahun itu kita menyiapkan anggaran sebanyak Rp 25,59 triliun,” kata Direktur Jenderal Anggaran (Dirjen Anggaran) Kementerian Keuangan Askolani dalam keterangannya, Rabu (27/3/2019).

Askolani menjelaskan, alokasi penganggaran untuk Pemilu 2019 terbagi dalam kelompok penyelenggaraan, pengawasan, dan kegiatan pendukung seperti keamanan.

Selain anggaran penyelenggaraan Pemilu sebesar Rp 25,6 triliun, juga dialokasikan anggaran untuk pengawasan sebesar Rp 4,85 triliun (naik dibanding 2014 sebesar Rp 3,67 triliun), dan anggaran keamanan dialokasikan sebesar Rp 3,29 triliun (anggaran 2014 Rp 1,7 triliun).

Begitupun anggaran untuk kegiatan pendukung pemilu, meningkat dari Rp 1,7 triliun pada Pemilu 2014 menjadi Rp 3,29 triliun pada Pemilu 2019.

Askolani menyampaikan terdapat dua faktor utama kenaikan anggaran pemilu ini. Pertama, adanya pemekaran daerah.

“KPU Provinsi jumlahnya bertambah satu ya, dari 33 sekarang jadi 34. Kemudian untuk KPU kabupaten, itu bertambah 17 KPU Kabupaten dari 497 menjadi 514 KPU Kabupaten/Kota,” terangnya.

Hal ini selanjutnya berdampak pula pada kenaikan jumlah penyelenggara pemilu di daerah, baik PPK, PPS, hingga KPPS. “Inilah yang menyebabkan biaya bertambah. Karena memang penyelenggaranya dan lembaganya juga bertambah,” ungkap Askolani.

Sebab kedua, adanya kenaikan honorarium bagi para penyelenggara pemilu, seperti PPK, PPS, dan KPPS. Termasuk juga panitia yang ada di luar negeri. “Kita hitung sesuai usulan KPU untuk mengadopsi dampak dari inflasi,” katanya.

Disebut Hemat Anggaran

Sementara itu Kepala Biro Perencanaan Data Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumariyandon mengemukakan, meski mengalami peningkatan anggaran yang signifikan dibandingkan periode sebelumnya, pelaksanaan pemilu serentak tahun ini juga mampu menghemat anggaran dalam jumlah yang tidak kalah signifikan.

Untuk biaya honor petugas pemilu, misalnya, efisiensi anggaran mencapai 50%. Selain itu, KPU juga bisa memangkas biaya pemutakhiran data pemilih karena hanya perlu dilakukan sebanyak satu kali pada awal persiapan pemilu.

Upaya mengefisiensikan anggaran oleh KPU juga dilakukan dalam beberapa aspek. Dalam hal pengadaan logistik, misalnya, KPU telah melaksanakannya secara elektronik melalui Katalog Nasional. Upaya ini diakui Sumariyandono mampu menghemat anggaran yang cukup besar dari pagu yang tersedia.

“Tahun Anggaran 2018, pengadaan logistik dapat menghemat 50,57% atau setara dengan Rp 483 miliar, sedangkan Tahun Anggaran 2019, efisiensi mencapai 31,4% atau setara dengan Rp 355 miliar,” jelas Sumariyandono.

Tidak sampai di situ, KPU juga mengupayakan terobosan baru berupa penggunaan kotak suara dari bahan karton yang kedap air. Dari upaya tersebut, biaya pengadaan kotak suara diketahui bisa dipangkas hingga 70%.

KPU memastikan bahwa kotak suara tersebut telah lulus uji kekuatan maupun kelayakan penggunaan. Upaya lain KPU dalam menekan biaya salah satunya dari sisi fasilitasi kampanye bagi para calon anggota parlemen. Dari sepuluh kali fasilitasi kampanye yang diperbolehkan Undang-Undang, KPU membatasi pemberian fasilitasi sebanyak tiga kali saja.

Sebagai informasi, praktik pemilu serentak telah dilakukan di sejumlah negara di dunia. Sumariyandono menyebutkan, Amerika Serikat menjadi salah satu contohnya. “Gubernur atau kepala daerah di AS dipilih bersamaan dengan pemilihan presiden serta para senator,” ungkap Sumariyandono.

Selain itu, dia menambahkan, pemilu serentak juga dilaksanakan oleh 12 negara dari total 18 negara di kawasan Amerika Latin.

Disayangkan Bila Golput

Menjelang Pemilu 2019 bulan April mendatang wacana golput terus bergaung. Sejumlah tokoh masyarakat hingga Presiden Jokowi menyayangkan jika warga masyarakat termakan isu golput untuk tidak melaksanakan hak pilihnya.

Pengamat politik asal Sulawesi Utara, Taufik Tumbelaka menyatakan hal serupa.

Menurutnya golput bukanlah cara bijak dalam merayakan pesta demokrasi.”Pemilu termasuk pilpres adalah hajatan bersama seluruh rakyat Indonesia, ini pesta kita, pesta demokrasi milik rakyat, jadi tidaklah bijak kalau kita tidak turut merayakannya,” tukas Tumbelaka.

Menurutnya, melakukan golput bukanlah sikap warga negara yang baik.”Jika kita tidak melaksanakan hak pilih berarti membiarkan kebijakan lima tahun kedepan terjadi tanpa partisipasi kita sebagai bagian dari rakyat yang akan merasakannya. Kita tentukan pilihan kita sesuai dengan program yang dijanjikan orang yang kita pilih. Kalau membiarkan dengan tidak melaksanakan hak pilih atau golput sama saja membiarkan calon pemimpin kita melaksanakan programnya entah itu kita suka atau tidak. Kita rugi karena jika mereka terpilih melaksanakan program yang tidak kita sukai maka kita akan turut merasakannya selama lima tahun kedepan,” tandas Taufik.

Putra mantan Gubernur Sulawesi Utara Tengah ini berharap masyarakat melaksanakan hal pilihnya dengan memilih pemimpin yang berkualitas.(DEN/JIM)

Sang Idealis Rahman Tolleng Meninggal

Aktivis Demokrasi Rahman Tolleng

Jurnal123.com – Aktivis Demokrasi, Rahman Tolleng, meninggal pada Selasa, 29 Januari 2019 pagi pukul 05.25 di Rumah Sakit Abdi Waluyo, Jakarta. Berdasarkan pesan berantai di jejaring WhatsApp, Rahman Tolleng akan dibawa ke rumah duka di Jalan Cipedes Tengah 133, Bandung, Jawa Barat.

Sejumlah tokoh mengucapkan duka atas meninggalnya Rahma Tolleng. Lewat akun twitternya, Goenawan Mohamad menulis, “Rahman Tolleng, aktivis Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMSos) sejak akhir tahun 1950-an meninggal pagi ini di Jakarta. Pejuang demokrasi yang konsisten, tanpa pamrih, berkali-kali gagal — tanpa putus asa. Sahabat yang tak selamanya sepaham.”

Kemudian, ucapan senada juga disampaikan Ulil Abshar Abdalla. Ia menulis, “Kabar duka pagi ini: Rahman Tolleng, salah satu tokoh penting angkatan 66, wafat jam 5-an. Ikut berduka yg mendalam. Saya mulai bersahabat dengan sosok yg tajam pandangan-pandanganya ini ketika mengikuti pertemuan mingguan Forum Demokrasinya Gus Dur di tahun 90an.”

Terakhir, Chatib Basri pun mengucapkan duka. Lewat Twitter, ia menulis “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Duka yang amat dalam pagi: telah meninggal dunia sahabat, kakak dan guru saya A. Rahman Tolleng. Nama yang akan tercatat dalam sejarah politik Indonesia. Saya akan selalu kenang, diskusi dan obrolan politik kita. Selamat jalan Bos.”

Jejak Aktivis Demokrasi

Rahman Tolleng dikenal sebagai politikus idealis. Dorongan berpolitiknya datang dari rasa keindonesiaan yang bersemi ketika dia masih duduk di kelas 3 sekolah dasar di Watampone, Sulawesi Selatan di penghujung 1945. Hampir setiap petang, bersama teman sepermainannya, ia mengintip sekelompok anak muda berlatih baris-berbaris di jalan raya. Mereka mengenakan pakaian putih dengan emblem merah-putih tersemat di dada.

Semasa hidup, Tolleng pernah menjabat sebagai Direktur Penerbitan Grafiti Pers pada 1991. Adapun dalam karir politiknya, Tolleng pernah menjadi anggota DPR Gotong Royong (DPRGR)/Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada 1968-1971. Kemudian menjadi anggota DPR/MPR pada 1971-1974.

Pria kelahiran Sinjai, Sulawesi Selatan, 5 Juli 1937 itu dicari-cari di era Orde Lama karena memprotes Dekrit Presiden Soekarno. Sesudah G-30-S, ia menggerakkan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia di Bandung, dan ikut memprakarsai penerbitan tabloid Mahasiswa Indonesia pada 1966.

Menjelang pemilu 1971, putra saudagar dan pelaut Bugis ini terlibat dalam proses transformasi Sekretariat Bersama Golkar menjadi Golongan Karya. Karir politiknya maju pesat. Peristiwa Malari, 15 Januari 1974, menjadi titik balik baginya.

Ia dianggap terlibat dalam demonstrasi menentang kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka. Tolleng ditahan bersama sejumlah intelektual dan pemimpin mahasiswa masa itu. Meski akhirnya dibebaskan, ia mulai terpinggirkan dari pentas politik. Bahkan, ia di-recall sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan kehilangan jabatan di Dewan Pimpinan Pusat Golkar.

Pada awal 1990-an, bersama Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan sejumlah tokoh lain, Rahman Tolleng ikut mendeklarasikan Forum Demokrasi yang mengajukan Gus Dur sebagai calon presiden alternatif menggantikan Soeharto. Gus Dur akhirnya menjadi presiden, tapi Forum menghilang. Bagi ayah dua anak ini, usia bukan rintangan untuk tetap giat di dunia politik.(TEM)

Perjuangan Hidup Eka Tjipta Widjaja, Berawal dari Jualan Biskuit dan Permen Keliling

Selamat Jalan Eka Tjipta Wijaya

Jurnal123.com – Kabar duka menyelimuti dunia usaha Indonesia. Pengusaha Eka Tjipta Widjaja meninggal dunia pada Sabtu malam (27/1/2019) di Jakarta pada usianya yang ke-98.

Pria yang memulai bisnisnya di Makassar itu menorehkan sejarah besar di dunia bisnis sebagai pendiri Sinar Mas.

“Telah meninggal dunia pendiri Sinar Mas Bapak Eka Tjipta Widjaja pada usia 98 tahun. Pada pukul 19.43 WIB, Sabtu, 26 Januari 2019. Jenazah akan disemayamkan di rumah duka RSPAD Gatot Subroto,” ujar juru bicara Grup Sinar Mas, Gandhi Sulityanto, Minggu, 27 Januari 2019.

Eka Tjipta Widjaja masuk ke dalam orang terkaya nomor tiga di Indonesia dalam perhitungan akhir tahun 2018 oleh Majalah Forbes. Kekayaannya tercatat mencapai USD 8,6 miliar atau Rp 121,1 triliun.

Kesuksesan Eka Tjipta Widjaja sebagai pendiri Sinar Mas, tidak langsung melewati perjalanan yang singkat. Banyak lika-liku kehidupan yang ia hadapi sejak masih muda.
Berikut perjuangan hidup Eka Tjipta Widjaja yang berhasil dirangkum, Minggu (27/1/2019) dari berbagai sumber.

Eka Tjipta Widjaja asli Tiongkok yang merantau

Menurut informasi dari Gandhi, Eka Tjipta dilahirkan dari keluarga miskin di Fujian, daerah yang terletak di Republik Rakyat Tiongkok.

Pada tahun 1931, bersama ibunya dia melakukan migrasi ke Makassar, Sulawesi Selatan untuk menyusul ayahnya yang terlebih dahulu migrasi, dikutip dari Merdeka.com, Minggu (27/1/2019).

Dalam usia 9 tahun ia merantau ke Indonesia, bersama sang ibu menyusul ayahnya yang sudah terlebih dahulu memiliki toko kecil di Makassar.

Dua tahun membantu ayahnya, toko yang mereka jalani berkembang maju dan mampu membayar hutang. Penghasilan yang sudah cukup membaik, membuat Eka ingin bersekolah.

Masa muda Eka Tjipta Widjaja yang penuh perjuangan

Hanya mampu menyelesaikan pendidikan hingga sekolah dasar, ia tidak melanjutkan pendidikannya lagi karena masalah ekonomi. Masalah hutang oleh rentenir masih menjadi beban bagi keluarganya.

Ia mulai berjualan keliling di kota Makasar dengan sepedanya. Berjualan dari pintu satu ke pintu yang lain, ia menawarkan permen, biskuit dan barang lainnya di toko milik ayahnya.
Menginjak usia 15 tahun, ia menjadi pemasok kembang gula dan biskuit dengan sepedanya yang melewati hutan-hutan karena jalanan tidak sebagus saat ini. Hasil yang ia dapat hanya sebesar Rp 20.

Saat semua berjalan lancar, ia mampu membeli becak agar barang muatannya semakin banyak. Sayangnya tak berapa lama Jepang datang ke Makassar sehingga usahanya hancur total dan ia menganggur .

Saat ia mencari harapan, ia berkeliling kota Makasar dan sampai di Paotere. Sebuah tempat di pinggir Makassar pangkalan kapal untuk ke Jawa. Ia melihat banyak barang-barang dan bahan pokok yang diangkut serta banyak tentara Jepang yang menjaga.
Akhirnya ia memiliki ide untuk berjualan makanan dan minuman untuk para tentara di kawasan itu.

Sejak saat itu ia mulai berjualan bahan-bahan pokok seperti terigu, arak Cina bahkan semen. Ia juga mulai berlayar ke Selayar (Sulawesi Selatan) untuk mencari bahan-bahan yang bisa dijual.

Menjadi pengusaha di berbagai bidang

Bisnis kelapa sawit
Setelah Jepang mengeluarkan aturan tentang jual beli minyak kelapa, ia sempat rugi besar. Tahun 1980, ia membeli sebidang perkebunan kelapa sawit di Riau dan pabrik beserta mesinnya. Selang setahun bisnisnya berjalan lancar dan ia membeli perkebunan the sekaligus pabriknya.
Bisnis perbankan, kertas dan properti
Ia mulai merintis bisnis bank. Eka membeli Bank Internasional Indonesia yang kemudian berkembang pesat hingga memiliki 40 cabang yang dulunya hanya 2 cabang saja. Aset yang ia dapat mencapai Rp 9,2 triliun. Ia kemudian membeli PT Indah Kiat sebuah pabrik kertas.

Bisnis Sinar Mas

Semua usaha yang dirintisnya tersebut di bawah naungan kelompok usaha Sinar Mas.

Tepat pukul 19.43 WIB pada usia 98 tahun, Eka Tjipta Widjaja konglomerat Sinar Mas Group meninggal dunia karena faktor usia.

“Jenazah disemayamkan di Rumah Duka Gatot Subroto Jakarta,” kata Gandhi Sulistyanto, Minggu (27/1/2019).

Ia akan dimakamkan di makam keluarganya di Karawang, Jawa Barat, pada 2 Februari 2019 mendatang.
 

Polri : Tabloid Barokah Terkait Kaidah Jurnalistik Penilaiannya di Dewan Pers

Tabloid Indonesia Barokah

Jurnal123.com – Hadirnya tabloid Barokah yang sempat dipertanyakan berkaitan dengan pemberitaan, melihat hal itu dikomunikasi dengan Dewan Pers yang  menilai karya jurnalistik dengan kaidah jurnalistik. Apa bila ada pelanggaran hukum  kita tunggu rekomendasi  kepada aparat hukum.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat, Brigjend Pol  Dedi Prasetyo ditemui di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (24/1)2-19 mengatakan  untuk tabloid Barokah hasil komunikasi saya dengan Stanley (Ketua Dewan Pers, red) ada dua prespektif, pertama dari Dewan Pers sudah mendapat pengaduan langsung dari Bawaslu, dimana Bawaslu  mengadukan tentang pemberitaan yang dilakukan oleh Tabloid Barokah. “Kemudian dari Dewan Pers akan melakukan asesment terlebih dahulu karena Dewan Pers memiliki kompotensi untuk menilai karya jurnalistik ini sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik  atau ada pelanggaran hukumnya,” ujarnya.

Selanjutnya, Dedi menegaskan nanti kalau ada pelanggaran hukumnya seperti kasus terdahulu itu. Nanti  dari Ketua Dewan Pers akan memberikan rekomedasi kepada aparat penegak hukum .”Dalam hal ini Polri namun kalau isi dari tabloid Barokah itu narasi-narasinya sangat ke ndatl dan merugikan kedua pasangan calon  nanti diserahkan ke Bawaslu dulu,”  tegasnya.

Untuk itu, Dedi menjelaskan Bawaslu rekom dari Tabloid Barokah pelanggaran-pelanggarannya apa saja , pelangaran yang jelas dan pelanggaran pidana ini mulai dari pencemaran nama baik kemudian penghinaan dan yang lain sebagainya nanti esesment oleh Bawaslu.”Sedalam di esesment apakah itu satu bentuk pelanggrana pemilu atau tindak pidana pemilu. Kalau nanti masuk dalam pidana Pemilu  nanti akan diserahkan ke Gakumdu dari situ ada Polri, ada Kejaksaan dan ada Bawaslu untuk menyelesaikan kasus ini,” jelasnya. 

Lebih lanjut, Dedi merinci  Jadi kasus ini masih berproses dulu di dewan Pers.” Karena Dewan Pers yang berkompoten untuk mengakses dan menilai serta menganalisa berita-berita yang ditampilkan Tabloid Barokah,’ rincinya.

Ketika ditanya apakah ada yang melaporkan sampai saat ini, Dedi menandaskan belum , ada pasangan calon melaporkan tetapi tidak ke Polri tetapi ke Bawaslu dulu, Nanti Bawaslu membuat laporan ke pada pak Stenly Dewan Pers.” Sekarang Dewan pers sudah menerima  beberapa media yang dilaporkan oleh Bawaslu nanti pasangan calon tim pemenangan itu  masih di esesment dahulu. Nanti dilihat dahulu dicek dahulu . Oh ini bukan rana Baswaaslu oh ini Pidana umum nanti diserahkan kepada Polri dan kita akan menangani,” tandasnya.  . 

Disingung sampai saat ini tidak ada campur tangan Polri, Dedi membeberkan belum – belum. Saya masih berkomunikasi dengan Dewan Pers. 

Tetapi ada informasi tim di datangkan dari Jakarta Selatan, baru disebarkan di Jawa Tengah., nah itu saya belum tahu. ” Ada beberapa refrensi-refrensi yang dia dapat dari beberapa media menstrim , kemudian dari juga mediainvestigasi dari beberapa media dimasukan juga ke dalam narasi itu. ya sebagaian besar ke Jawa Tengah.ini informasinya,” bebernya. (Vecky Ngelo)