Category Archives: Budaya

Budaya Dapat Menjernihkan Kekotoran Politik

images(10)

Gubernur Jawa Timur H. Soekarwo

JURNAL123, SURABAYA.
Gubernur Jawa Timur Soekarwo berpendapat, kekotoran politik yang muncul dalam pelaksanaan pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada) sering menimbulkan banyak gesekan. Menurutnya, hanya lewat kebudayaan, kekotoran itu bisa dijernihkan dengan damai dan berakhir hingga menjadi guyub dan rukun.

“Karena budaya adalah bagian yang bisa menjernihkan seseorang sehingga guyub rukun, yang lebih penting dari pada sebuah kemenangan, apalagi kekalahan,” kata pria yang akrab disapa Pakde Karwo di Surabaya, Kamis (19/10/2017).

Pakde Karwo melanjutkan, kebudayaan yang sejuk dan damai sudah dicontohkan oleh para Walisongo. Dimana, penyebaran agama Islam di Nusantara memberikan solusi kecerdasan yang sangat kuat dalam menyikapi sebuah kesulitan.

Seperti halnya Mahabarata dan Ramayana. Bagaimana mengupas secara baik yang kemudian orang seperti berhala diubah menjadi seperti wayang yang tangannya lebih panjang dari tangan orang. Sehingga konsep berhala menjadi seni, ujar Pakde Karwo.

Pakde Karwo memgingatkan, kerukunan dan keguyuban masyarakat lebih penting dari pada sebuah kekalahan maupun kemenangan dalam sebuah Pemilukada. Oleh sebab itu, orang nomor satu di Jatim itu menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang ikut bagian dalam membangun sebuah keharmonisan.

“Ini memberikan semacam tuntunan terhadap kita soal modernisasi itu bukan seperti kebarat-baratan, modernisasi bagian dari sopan santun, etik dan warna yaitu harus menampung semuanya,” katanya.(ROL)

Batik Dan Sejarahnya

Memperingati Hari Batik Nasional 2 Oktober 2017

Memperingati Hari Batik Nasional 2 Oktober 2017


JURNAL123, JAKARTA.
Senin (2/10/2017) bertepatan dengan Hari Batik Nasional.

Orang-orang Jawa seringkali menyebut batik sebagai rangkaian dari dua kata, yaitu amba yang berarti menggambar atau menulis, dan tik, dari kata titik. Hambatik atau ambatik lalu diartikan sebagai menggambar titik-titik.

Pengertian itu sesuai dengan kesepakatan Konvensi Batik Internasional yang diselenggarakan di Yogyakarta tahun 1997 yang mendefiniskan batik sebagai proses penulisan gambar atau ragam hias pada media apapun dengan menggunakan lilin batik (wax/malam) sebagai alat perintang warna. Pada pembuatan batik, lilin batik diaplikasikan pada kain untuk mencegah penyerapan warna pada saat proses pewarnaan.

Seni pewarnaan dengan teknik perintang ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti Tang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794).

Namun teknik menghalangi warna untuk menciptakan pula berkembang paling pesat di Indonesia. Batik Nusantara dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan berkembang di berbagai tempat di Indonesia dalam pola beragam hingga sekarang.

Bila kita melihat arca atau relief kuno di Jawa, kita akan mendapati bukti keberadaan batik di Indonesia sejak lama. Pola-pola batik seperti pada arca Prajnaparamita, arca dewi kebijaksanaan dari abad ke-13 yang ditemukan di Jawa Timur memperlihatkan detil pakaian berpola sulur tumbuhan dan kembang-kembang yang mirip dengan pola batik tradisional Jawa.

Kerumitan pola seperti itu, menurut beberapa peneliti, kemungkinan besar dihasilkan menggunakan canting. Artinya canting sebagai alat pembatik sudah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau sebelumnya, dan bisa jadi alat itu memang muncul di Jawa.

Biasanya, beragam lapisan masyarakat mulai dari pegawai pemerintah, pegawai BUMN, hingga pelajar dianjurkan untuk memakai batik.

Tanggal 2 Oktober yang ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional berawal dari penetapan batik oleh UNESCO, sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Setelah penetapan itu, maka Indonesia memperingatinya sebagai Hari Batik Nasional.

Ini juga dikuatkan dengan Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009.

Di dunia luar, batik pertama kali diperkenalkan oleh Presiden Suharto, saat mengikuti konferensi PBB.

Meskipun demikian, diakuinya batik sebagai warisan budaya Indonesia oleh dunia, tidak serta merta diperoleh.

Batik sempat hampir ditinggalkan oleh masyarakat, termasuk generasi muda. Hingga akhirnya, batik hampir saja diklaim oleh Malaysia.

Saat itulah seolah masyarakat menjadi tersadar, bahwa batik adalah warisan leluhur yang harus dilestarikan. Menghadapi persoalan itu, Pemerintah Indonesia tak tinggal diam.

Tahun 2008, pemerintah mendaftarkan batik ke dalam jajaran daftar Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi UNESCO.

Setelah diterima secara resmi pada 9 Januari 2009, beberapa bulan kemudian, tepatnya pada 2 Oktober 2009, UNESCO mengukuhkan batik Indonesia dalam daftar Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi, di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Batik berhasil diakui dunia internasional sebagai warisan budaya asli Indonesia, di bawah pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Saat ini, batik telah menjadi bagian sehari-hari kehidupan masyarakat Indonesia. Modelnya juga sudah beragam dan mengikuti tren fashion kekinian.

Jika dulu warna batik hanya identik dengan coklat dan hitam, maka kini berbagai kombinasi warna-warna lain seperti ungu, merah, hijau hingga kuning, sudah dapat dengan mudah ditemui.

Oleh karenanya, bila di Hari Batik ini Anda ingin merayakan budaya batik dengan mengenakan batik, maka pastikan yang Anda pakai adalah batik, bukan kain bermotif batik. Selamat berbatik ria, selamat membudayakan produk asli dalam negeri (TRI/MEN)

Festival Keraton Nusantara Di Cirebon, Memelihara Budaya

Kemeriahan Festival Keraton Nusantara Ke-11 Di Cirebon (Foto radarcirebon.com)

Kemeriahan Festival Keraton Nusantara Ke-11 Di Cirebon (Foto radarcirebon.com)

JURNAL123, CIREBON.
Festival Keraton Nusantara (FKN) ke-11 secara resmi dibuka oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan di Kota Cirebon dan diikuti oleh Keraton se-Nusantara.

Festival Terapung Peringati HUT Ke-67 Kalimantan Selatan

Panglima Burung Menjadi Perhatian Di Festival Terapung Kalimantan Selatan (Foto Tribun News)

Panglima Burung Menjadi Perhatian Di Festival Terapung Kalimantan Selatan (Foto Tribun News)

JURNAL123, BANJARMASIN.
Festival Pasar Terapung 2017 yang dihelat Dinas Pariwisata Kalimantan Selatan (Kalsel), sejak Jumat (25/8) malam membius para wisatawan domestik dan mancanegara. Kegiatan akan berlangsung hingga 30 Agustus 2017.

Budaya Nusantara Warnai Parade Asean

Peserta Parade Asean Dari Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK)

Peserta Parade Asean Dari Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK)

JURNAL123, JAKARTA.
Perhelatan rutin Car Free Day, atau hari bebas kendaraan bermotor yang diadakan di Jakarta, setiap hari Minggu pagi diwarnai dengan berbagai acara yang meriah.
Kali ini, pelaksanaan CFD lebih padat dari biasanya, karena sekaligus digelar Parade ASEAN 50. Parade tersebut dihadiri lebih dari 3.000 peserta.

Para peserta itu berasal dari negara ASEAN, Mitra Wicara ASEAN, Sekretariat ASEAN, komunitas, organisasi, sekolah, serta sejumlah kementerian di Indonesia.
Kegiatan Parade ASEAN ini dilepas langsung oleh Menteri Luar Negeri Retno L.P Marsudi yang di Silang Monas, Jakarta, Minggu 27 Agustus 2017.

Berbagai atraksi budaya dan kostum dari berbagai daerah negara sahabat meriahkan gelaran parade ini yang dimulai dari Silang Monas menuju Bundaran Hotel Indonesia.

Parade ini mendapat sambutan antusias dari pengunjung CFD. Parade Kain Nusantara
Tak hanya diramaikan oleh sejumlah negara dari ASEAN, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) bersama Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud), serta Komnas HAM juga ikut memeriahkan parade ini. Mereka, turut menggelar peringatan khusus dengan Parade Kain Nusantara.

Selain meramaikan parade, kegiatan ini juga akan dilanjutkan dengan perbincangan terkait Pengelolaan Kain Tradisional di Monumen Nasional (Monas).
Parade ini dimulai tepat pukul 7.30 WIB dari depan Menara BCA di kawasan Bundaran Hotel Indonesia. Dengan titik terakhir yang berada di Monas.

Parade kain ini diikuti oleh hampir keseluruhan perwakilan setiap daerah di Indonesia. Perwakilan tersebut rata-rata diikuti oleh sekelompok asosiasi kain nusantara.

“Kain adalah pilihan dari potret untuk bahasa kita. Dan harus kita pelihara bersama,” kata perwakilan dari Komnas HAM di kawasan Thamrin, Jakarta, Minggu 27 Agustus 2019.

Setibanya di Monas, rombongan parade ini akan diberikan sebuah perbincangan. Perbincangan itu mengenai Pengelolaan Kain Tradisional.

Dijelaskan juga, parade ini juga digelar untuk menjunjung tinggi makna kain sebenarnya dan memperkenalkan lebih luas kepada masyarakat. Parade ini juga dilaksanakan masih dalam suasana HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 72.

Nampak kain yang ditampilkan dari daerah Minahasa, Sulawesi Utara. Sekaligus tarian khas Cakalele Kabasaran yang turut memeriahkan iven tersebut, ditampilkan oleh organisasi kemasyarakatan Kerukunan Keluarga Kawanua dibawah pimpinan Angelica Tengker selaku Ketua Umum organisasi tersebut.(VIN/MEN)

Tradisi Cap Go Meh

cap_gomeh

Ilustrasi Perayaan Cap Go Meh

JURNAL123, BUDAYA.
Cap Go Meh atau Hokkien adalah hari masa perayaan Tahun Baru Imlek bagi komunitas Tionghoa di seluruh dunia. Istilah ini berasal dari dialek Hokkien dan secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama (Cap = Sepuluh, Go = Lima, Meh = Malam). Ini berarti, masa perayaan Tahun Baru Imlek berlangsung selama lima belas hari.

Cap Go Meh digelar sebagai penutup tahun baru Imlek yang selalu dilakukan di hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek. Hari ke-15 ini juga merupakan tengah bulan pembukaan kalender lunar atau bulan purnama pertama dalam kalender baru lunar.

Festival ini sudah dilakukan selama ribuan tahun lalu. Khususnya Tiongkok yang setiap sudutnya akan dipenuhi dengan lampion dengan nama perayaan Festival Lampion. Sementara di berbagai negara, penduduk bisa menyaksikan berbagai perayaan dengan atraksi dan kesenian khas Tionghoa.

Di Tiongkok, perayaan Festival Lampion sekaligus menandai datangnya Musim Semi. Pada perayaan ini, penduduk akan menerbangkan ribuan lampion ke langit yang diterangi dengan bulan purnama.

Pada zaman Tiongkok Kuno, orang-orang perayaan hari ke-15 dalam kalender lunar ini juga disebut sebagai Hari Valentine versi mereka. Di hari penutup Imlek ini, semua mitos-mitos yang berlaku sejak malam Tahun Baru akan berakhir.

Dikutip Telegraph, Sabtu (11/2/2017) Festival Lampion di Tiongkok telah dilakukan sejak zaman Dinasti Han sekira 2.000 tahun yang lalu. Kok, Kaisar Hangmindi yang memerintah di abad pertama melihat Biksu Buddha yang menyalakan dan menerbangan lentera di hari ke-15 Imlek untuk memberi hormat pada Sang Buddha.

Sejak saat itu, Kaisar Hangmindi memerintahkan penduduk untuk melakukan tradisi tersebut di Istana Imperial. Meski lampion menjadi salah satu ikon dalam hari penutup Imlek, beberapa atraksi tak kalah menarik lainnya dipertontonkan kepada publik. Di Indonesia sendiri, perayaan Cap Go Meh tidak lepas dari pertunjukan Barongsai, Liong, dan atraksi khas Tionghoa lainnya.(TEL)

Menteri Pariwisata Launching Kunjungan Wisata Manado 2017

gonewsco_wuubw_11860

Launching Kalender Iven Kunjungan Wisata Ke Manado 2017

JURNAL123, JAKARTA.
Kalender iven kepariwisataan di Indonesia terus digiatkan. Kali ini provinsi Sulawesi Utara dengan ibukota provinsinya Manado yang menjadi daerah tujuan wisata.
Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya beserta Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Olly Dondokambey dan Walikota Manado Godbless S Vicky Lumentut me-Launching Kalender Wisata Pesona Manado 2017 di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Jakarta, kantor Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Senin malam (21/11/2016).

Peluncuran kalender wisata tersebut sebagai upaya mempromosikan dan meningkatkan kunjungan wisatawan ke Manado, Sulut yang tahun 2017 mentargetkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sebanyak 51.110 wisman dan 1,27 juta pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) sekaligus mendukung program Wonderful Indonesia dan Pesona Indonesia dalam mencapai target 2017 sebanyak 15 juta wisman dan 265 juta wisnus.

Menpar Arief Yahya memberikan apresiasi terhadap peluncuran Kalender Wisata Pesona Manado 2017 sebagai sarana mempromosikan potensi pariwisata Kota Manado yang dikenal wisatawan dunia dengan keindahan Taman Nasional Laut Bunaken.

“Bunaken sebagai destinasi marine tourism kelas dunia memiliki nilai jual tinggi. Kita gencar mempromosikan di antaranya ke Tiongkok sebagai pasar utama. Manado belakangan ini menjadi salah satu destinasi favourit di kalangan wisatawan Tiongkok. Pada Juli-Agustus 2016 yang lalu kunjungan turis Tiongkok ke Manado naik hingga 1.000 persen karena ada direct flight dari empat provinsi dan 6 kota di Tiongkok,” kata Arief Yahya.

Menpar Arief Yahya menjelaskan, Manado mempunyai keunggulan di tiga A (Atraksi, Aksesibilitas, dan Amenitas). Untuk atraksi; Manado memiliki antara lain Taman Nasional Bunaken; Pulau Manado Tua, Pulau Siladen, Kawasan Gunung Tumpa, Kawasan Kampung Cina, Kawasan Kampung Arab, dan kawasan kuliner Jalan Wakeke.

Untuk aksesibilitas Manado memiliki bandara internasional Samratulangi sebagai northern hub yang melayani 15 tujuan penerbangan domestik dan 9 penerbangan internasional yakni; 1 ke Singapura dan 8 kota di Tiongkok ( Chengdu, Chongqing, Guangzou, Hongkong, Wuhan, Nanchang, Changsha, Macau). Untuk amenitas Manado memiliki fasilitas wisata yang lengkap di antaranya jasa perjalanan wisata, wisata tirta, usaha hiburan dan rekreasi, dan MICE serta didukung dengan fasilitas akomodasi sebanyak 129 hotel bintang dan non-bintang dengan total 5.000 kamar.

Menpar memaparkan bahwa pariwisata menjadi leading sector menyumbang 10% PDB nasional; kontribusi devisa pariwisata sebesar 9,3% dengan pertumbuhan sebesar 13% serta menciptakan 9,8 juta lapangan kerja atau 8,4% secara nasional dan menempati urutan ke-4 dari seluruh sektor industri, serta pencipta lapangan kerja termurah sebesar US$ 5.000/satu pekerjaan, sedangkan industri lain rata-rata US$ 100.000 /satu pekerjaan.

Gubernur Sulut Olly Dondokambey mengatakan, sektor pariwisata menjadi andalan bagi Kota Manado dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.“Tahun 2015 sektor pariwisata memberikan kontribusi sebesar 28,17% dari total PDRB Kota Manado,” kata Olly Dondokambey.

Menurut Olly Dondokambey, calendar of events pariwisata Kota Manado 2017 ini merupakan agenda atraksi unggulan destinasi pariwisata Manado yang digelar sepanjang tahun 2017 yang dikemas dalam suatu paket kegiatan serba unik dengan kualitas daya tarik destinasi guna meningkatkan pengalaman, lama tinggal, belanja, serta mendorong kunjungan ulang para wisatawan. “Untuk ini target kunjungan wisatawan Kota Manado terus kita tingkatkan. Tahun ini kita mentargetkan 46.464 wisman dan 1,27 juta wisnus, sedangkan tahun 2017 target kita naikan menjadi 51.110 wisman dan 1,37 juta wisnus,” kata Olly Dondokambey.

Walikota Manado Vicky Lumentut mengatakan, sepanjang tahun 2017 disiapkan sebanyak 21 kegiatan atau even pariwisata unggulan yang diharapkan nantinya menjadi even tahunan. “Kita harapkan Kalender Wisata Pesona Manado 2017 menjadi salah satu daya tarik untuk meningkatkan kunjungan wisatawan pada tahun depan,” kata Vicky Lumentut .

Sebanyak 21 kegaitan (even) pariwisata tersebut antara lain; Bendi Weekend On Boulevard di sepanjang jalan Boulevard Manado (setiap akhir pecan); Pentas Hiburan Rakyat di Taman Kesatuan Bangsa (setiap akhir pekan); Figura Manado di Kawasan Megamas (29 Januari); Olahraga tradisional perairan Tulude di Teluk Manado (30 Januari); Festival Cap Go Meh di Kawasan Pecinan Kota Manado (12 Februari).

Gelar Tarian Selendang Biru; Manado Easter Show; Manado Cantate; International Choir Festival; Manado Extreme Adventures Tourism, International Trail Running, Hasher International di Kawasan Hutan Lindung Gunung Tumpa Manado (18-22 Oktober 2017); Miss Scuba International di MCC (25 November 2017); dan Pisah Taong di Megamas Manado (31 Desember).
Ditempat terpisah Kepala Bagian Humas Kota Manado Steven Runtuwene menyatakan bahwa kunjungan wisata ke Manado akan terus digiatkan bukan hanya pada launching seperti ini saja. Hal tersebut akan terus dilakukan lewat berbagai iven maupun promosi lainnya. Runtuwene berharap Manado bisa menjadi daerah kunjungan wisata terbaik selain Bali.(JIM)

Cap Go Meh Manado Dibanjiri Wisman Mancanegara.

1425557779974

1425557779974
MANADO, JURNAL123.
Prosesi Cap Go Meh di Manado yang dilaksanakan setiap tahunnya merupakan agenda wisata yang menarik bagi masyarakat sekitar hingga wisatawan mancanegara (Wisman).
Kegiatan yang berlangsung pada hari ini Kamis (5/3/2015) dibanjiri ribuan pengunjung.
Wisatawan mancanegara berasal dari berbagai negara seperti Taiwan, Singapura, Malaysia, Filipina serta beberapa negara Eropa salah satunya Belanda. Selain wisman mancanegara tidak sedikit juga wistawan lokal dari Jakarta, Kalimantan dan daerah lain yang telah mengetahui kemeriahan Cap Go Meh di Manado dengan berbagai atraksinya yang cukup ekstrim.
Kelenteng Ban Hin Kiong merupakan lokasi pelaksanaan prosesi tahunan tradisi masyarakat keturunan Tionghoa di Manado.
Nampak juga dipanggung utama muspida provinsi Sulawesi Utara. Seperti Gubernur SH Sarundajang, Wakil Ketua DPRD Wenny Lumentut SE, Danrem Santiago, Wakil Walikota Manado Harly ‘Aie’ Mangindaan serta sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat.(JME)

Imlek Budaya Tionghoa Yang Diakui Indonesia

Wihara Dharma Bhakti di Petak Sembilan
Wihara Dharma Bhakti di Petak Sembilan

Wihara Dharma Bhakti di Petak Sembilan

JAKARTA, JURNAL123.
Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan mengunjungi Wihara Dharma Bhakti atau Wihara Cin Te Yen, Jalan Kemenangan III, Petak 9, Glodok, Jakarta Barat, Kamis (19/2/2015).

Anies menyambangi wihara tertua di Jakarta itu dalam rangka Tahun Baru Imlek yang jatuh tepat pada hari ini. Pada kesempatan itu, Anies mengatakan, Imlek adalah bagian dari budaya masyarakat Tionghoa, yang juga diakui di Indonesia.

Menurut Anies, peringatan Imlek yang diakui di Indonesia adalah bagian dari rasa saling menghormati di negeri ini. “Cek di negara lain yang mayoritas, libur minoritasnya ada enggak? Enggak ada. Di Indonesia ini, (Imlek) diberikan libur. Kita punya kesadaran yang luar biasa,” ujar Anies, di sela kunjungannya itu.

Menurut Anies, kesadaran dan rasa saling menghormati seperti ini perlu diturunkan antar-generasi. Salah satunya melalui lembaga pendidikan. Tugas pendidikan menurut Anies adalah terus menggandakan pesan bahwa Indonesia negeri yang beragam dan berbineka.

“Bangsa lain banyak yang dibangun dari etnis. Jika Anda bukan etnisnya, Anda bukan bangsanya, tetapi Indonesia tidak. Indonesia itu lewat gagasan. Karenanya, Indonesia itu negeri multiminoritas,” ujar Anies.

Anies berharap, keadaan ekonomi bangsa dapat terus membaik sehingga pendidikan dapat tetap terjamin. “Saya berharap bahwa menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa hari hujan pada saat Imlek berarti banyak rezeki, mudah-mudahan Indonesia stabil ekonominya, dan anak-anak bisa belajar dengan baik,” ujar Anies.(KOM)

Peradaban Prasejarah Ditemukan di Gunung Kidul

Candi Perwara

Candi Perwara

Candi Perwara


YOGYAKARTA, JURNAL123.
Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta merencanakan melakukan ekskavasi di beberapa kecamatan di daerah Gunungkidul pada tahun ini. Sejumlah benda-benda jejak peradaban prasejarah di temukan di daerah itu.

“Tahun ini selain pemugaran Candi Perwara, kita juga merencanakan akan melakukan ekskavasi di beberapa lokasi di daerah Gunungkidul,” ujar Wahyu Astuti, Kepala Seksi Perlindungan Pengembangan dan Pemanfaatan BPCB Yogyakarta, Sabtu (10/01/2014).

Ia menuturkan, sejumlah benda yang diduga berasal dari masa prasejarah ditemukan di daerah itu seperti alat keseharian, kubur kuno, tulang manusia maupun keperluan religi. Benda-benda itu ditemukan antara lain di Kecamatan Playen, Semanu, Karangmojo dan kecamatan Nglipar.

“Bermacam-macam, ditemukan peti kubur batu, tulang, bekal kubur dan alat-alat sehari-hari,” kata dia.

Ekskavasi juga akan dilakukan di Gua Braholo, Kecamatan Krongkop, Kabupaten Gunungkidul. Ditemukan bukti, gua kars itu pernah menjadi hunian manusia prasejarah.

“Di sana (Gua Braholo) juga ditemukan tulang manusia,” tuturnya.

Tahun ini BPCB Yogyakarta akan fokus di Gunungkidul. Ekskavasi di beberapa tempat akan dihentikan untuk sementara waktu.

“Seperti ekskavasi di Candi Tinjon sementara akan dihentikan. Tetapi kita tetap punya juru pelihara di beberapa lokasi temuan untuk menjaga,” ujar dia.(KOM)