Lansia Peduli: Tips Melintasi Badai COVID 19

Oleh: Hetty Antje Geru

Lansia Peduli merupakan sebuah tulisan berisi pesan pendek bagi kelompok lanjut usia,terutama tips melintasi badai hidup disaat merebaknya COVID 19.

Badai bagi lansia, bukan lagi kejadian luar biasa, tetapi sudah menjadi tantangan yang perlu disikapi setiap hari dan juga meliputi semua aspek kehidupan manusia. Aspek kesehatan fisik,mental dan inteligensia mengalami penurunan sangat nyata ,selain itu kemampuan ekonomi dan keuangan sangat menurun.

Di Indonesia angka kelompok lansia bertambah sangat cepat dan usianya juga makin bertambah. Tahun 2015 Bappenas mencatat bahwa terdapat 8.5 % kelompok umur diatas 60 tahun yang digolongkan sebagai kelompok lansia. Tahun ini 2020 diperkirakan jumlah lansia telah mencapai 10 %, digolongkan sehat, hampir renta dan renta.

Berikut ini akan dipaparkan tips bagi lansia dalam melintasi badai di hari tuanya , terutama di saat pandemic Covid 19 Tulisan ini berdasarkan pengalaman penulis pribadi ,pengalaman teman dan informasi dari media social serta banjuran dokter. Pertanyaan yang akan dijawab adalah bagaimana menjaga kesehatan,kebugaran fisik, mental spiritual serta inteligensia.

Kemudian bagaimana memenuhi kebutuhan sehari-hari?

Tips ditujukan kepada kelompok lansia yang masih sehat di perkotaan.

Kesehatan dan kebugaran fisik terutama bagi mereka yang masih sehat, perlu dijaga dan dpertahankan dengan jalan berolahaga ringan jalan santai disekitar rumah, atau sepeda statis bagi yang punya alat dirumah. Peregangan sederhana dapat dilakukan sebelum turun dari tempat tidur.

Ada banyak sumber di internet bagi yang paham.Minum air hangat satu sampai dua gelas setiap pagi Pola makan perlu dijaga dengan membatasi makanan berlemak, dan makan dalam jumlah sedikit tapi sering. Sayur dan buah sangat dianjurkan. Bagi daerah yang punya akses produk sayur organic sangatlah bermanfaat. Di era pandemic covid 19 anjuran minum jamu buatan sendiri patut diperhatikan guna meningkatkan daya tahan tubuh .

Konsumsi susu dan telur yang sehat setiap hari menurut pengalaman penulis sangat berpengaruh pada kesehatan lansia. Tentu saja setiap orang punya pengalaman berbeda. Kesehatan gigi merupakan gangguan yang menimpa setiap lansia, karena itu menjaga kesehatan mulut dan gigi sangat penting. Sikat gigi dan bersihkan mulut sedikitnya dua kali sehari.Lansia dengan gigi palsu memerlukan perawatan khusus.

Kesehatan mental,spiritual sangat dibutuhkan oleh setiap lansia, karena pada umunya lansia sangat sensitive, cepat kuatir dan hilang percaya diri. Di saat pandemic Covid 19 baru saja merebak , anak cucu bahkan atasan tempat bekerja (bagi yang masih bekerja) , memberi perhatian khsusus karena lansia dianggap paling rawan terhadap virus covid 19 tersebut .

Hal ini membuat lansia sangat kuatir dan tertekan. Selain upaya menjaga kebugaan tersebut diatas, upaya menjaga kegiatan rutin agar berjalan teratur sangat berpengaruh terhadap kestabilan mental spiritual. Mendekatkan diri dengan yang Mahakuasa menjadi semakin intensif dan membuat susana semakin nyaman. Menonton film , mendengarkan lagu-lagu bernuansa religious menjadi rutinitas yang tidak boleh ditinggalkan.

Menjaga daya ingat , diperoleh melalui membaca buku, novel atau menulis artikel atau cerita pendek , melukis, merajut, atau kegiatan hobby lainnya. Tidak jarang lansia mengalami lupa hari , tanggal dan jam. Beli kalender yang angka2nya besar dan setiap hari lingkari tanggalnya kemudian beri tanda silang di hari berikutnya.Menulis kegiatan penting di’ post it ‘ dan menempelkan di depan kaca rias merupakan tips yang cukup menolong.

Mengatur dan memenuhi kebutuhan sehari-hari ,jika tidak diatur secara baik bisa menimbulkan ketegangan . Apalagi saat pandemic,kebutuhan dibeli lewat online . Keuangan perlu diatur secara teliti agar mampu memenuhi kebutuhan setiap hari .

Peduli lansia memerlukan tips menghadapi badai covid 19 dalam menjaga kesehatan fisik,,mental spiritual dan daya ingat. Selain itu perlu menjaga terpenuhinya kebutuhan sehari-hari agar lansia mampu melewati badai pandemic covid 29.(***)

Penulis Dosen FISIP Universitas Pelita Harapan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *