Terkait Teror Bom Pimpinan KPK, Polisi Terus Melakukan Pemeriksaan Sidik Jari Dan Sketsa Wajah


Kepala Biro Penerangan Masyarakat, Brigjend Pol Dedy Prasetyo di Mabes Polri (Vecky Ngelo)


Jurnal123.com – Setelah dapat membuat skesa terkait pelaku bom di rumah pimpinan Komisi Pemberantas Korupsi(KPK) Laode dan Agus Rahadjo terus didalami sidik jari yang ada metode yang ada. Untuk steksa yang dirancang terus didalam secara baik sehingga dpat dibuat lebih sempurna.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat, Brigjend Pol Dedi Prasetyo ditemui di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (14/1)2019 menagatakan untuk bom coba lihat dua botol khusus yang di Pak Laode ini hasil saya ke tim masih didalami dan masih pemeriksaan berulang-ulang saksi. “Untuk sidik jari masih diupayakan dicari kenapa sidik jari diupayakan dicari karena metode yang diupaya Inafis sidik jari di botol,” ujarnya

Selanjutanya, Dedi menegaskan itu ada beberapa kendala yang dialami. Tapi masih diupayakan. Pada saat sudah terlalu banyak oleh pihak rumah yang memegang ,karena disitu juga ada api disiram air sehinnga untuk menunjukan cara dan teknis dimilik oleh inafis mencari sidik jari.” Demikian juga yang diparalon di kediaman Pak Agus Rahadjo itumasih didalami kembali sidik jari baik yang ada di tas karena tas juga diturunkan oleh anggota sama dengan paralon itu. Paralon itu setelah dilakukan gergaji dicek senyata koponen yang ada ternyata peletak bom sidik jari terlalu banyak,” tegasnya.

Untuk itu, Dedi menjelaskan kemudian untuk sketsa wajah itu ternyata tidak bisa dua kali atau tiga kali ,artinya harus berulang kali tim sketsa harus penuh dengan kesabaran tanyakan kedua saksi itu yang penjual itu. “Di kalrifikasi lagi bentuk muka seperti ini. Wah lupa lagi ternyata kejadian itu satu bulan sebelum kejadian peletakan bom itu pemilik warung itu sudah mencurigai kenapa tidak seperi biasanya orang ini datang. Kalau dia menanyakan ada apa, dia memberikan penjelasan rumah RT dia langsung pergi. Cek ulang seperti ini matanya ,kemudian hidungnya, kemudian telinga dia cross cek dua orang itu. Hasil cross cek dua orang itu,” jelasnya.

Lebih lanjut, Dedi merinci itu perlu pendalaman dan nanti kalau sudah selesai dipindahkan ke ITE atau komputer, di komputer itu lah nanti akan di haluskan lagi kemudian dianalisa secara koperhensif lagi dan diklasifikasikan.”Masih perlu teknologi dan penguapan belum muncul. Masih harus ada teknologi munculkan.
Itu perlu kesabaran , butuh proses yang haus detail , kita tidak bisa buru-buru,” rincinya. (Vecky Ngelo).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *