Pesparani Katolik : Mahfud MD Menilai Nyanyian Bisa Persatukan NKRI


(Dari kiri ke kanan) Uskup Ambonia Mgr Petrus C. Mandagi, Uskup Agung Pontianak Agustinus Agus, Anggota Dewan Pengarah BPIP Mahfud MD, Dirjen Bimas Katolik Eusabius Binsasi dan Moderator Tri Agung ( Foto: Yustinus Patris Paat / Yustinus Paath )

Jurnal123.com – Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Mahfud MD menilai nyanyian bisa merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan memperkuat identitas keindonesiaan. Menurut dia, hal tersebut sangat terasa ketika masyarakat Indonesia menyanyikan lagu-lagu nasional.

“Sebagai bagian dari seni, nyanyian atau lagu bisa memperkuat identitas keindonesiaan kita dan merawat NKRI. Ketika kita menyanyikan lagu ‘Indonesia Raya’, maka ada semangat persatuan di situ,” ujar Mahfud MD saat menjadi pembicara di Seminar bertajuk “Dari Maluku untuk Indonesia, Kita Rawat NKRI yang Damai dan Berkeadilan melalui Budaya Menyanyi” di Islamic Center, Ambon, Rabu (31/10).

Selain Mahfud MD, hadir juga sebagai pembicara, Uskup Ambonia Mgr Petrus C. Mandagi, Uskup Agung Pontianak Agustinus Agus dan Dirjen Bimas Katolik Eusabius Binsasi. Seminar ini merupakan rangkaian dari kegiatan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) II di Ambon.

Untuk mengkawal NKRI, kata Mahud MD, muncul lagu-lagu wajib seperti Halo-Halo Bandung, Maju Tak Gentar dan Garuda Pancasila. Sementara untuk memupuk kecintaan akan keindahan alam muncul lagu-lagu seperti Tanah Airku dan Indonesia Tanah Air.

“Coba saudara-saudara dengar kita para suporter Indonesia menyanyikan lagu Garuda di Dadaku, ada semangat nasionalisme di situ, itu melampaui sekat-sekat suku, agama dan perbedaan lainnya,” tandas dia.

Selain lagu-lagu nasional, kata Mahfud MD, lagu-lagu daerah juga bisa mempersatukan identitas dan semangat kebersatuan untuk merawat NKRI. Meskipun, menurut Mahfud, tidak banyak konten lagu-lagu daerah yang memuat konten nasionalisme secara langsung.

“Sebagai orang Madura, saya hanya tahu satu lagu yang berbicara negara dan bangsa yakni lagu ‘Pajjar Lagghu’ atau ‘Bapak Tani’ yang dalam liriknya ada kalimat memakmurkan naghara klaban bangsana atau memakmurkan negara dan bangsa,” ungkap dia.

Namun, yang menarik, kata Mahfud MD adalah banyak lagu-lagu daerah yang isinya menasional, menimbulkan rasa bersaudara sebagai bangsa karena diterima, disukai, dan dinyanyikan oleh warga di daerah-daerah lain seakan-akan lagunya sendiri. Lirik lagu daerah tersebut tidak bersifat kebangsaan, tetapi diterima di seluruh Indonesia sehingga menjadi identitas Indonesia juga.

“Contohnya lagu Apuse dari Papua, Burung Kaka Tua dari Maluku, Anging Mammiri dari Makassar, Ampar-Ampar Pisang dari Kalsel, Odel-Odel dari Betawi dan lagu-lagu daerah lainnya yang sudah biasa dinyanyikan oleh masyarakat Indonesia. Bahkan lagu Apuse dari Papua malah disadur menjadi sangat nasional menjadi lagu Garuda di Dadaku,” tutur dia seperti diberitakan Beritasatu.com

Tak hanya itu, lanjut Mahfud MD menilai banyak penyanyi asal daerah juga memperkuat ikatan kebangsaan ketika yang bersangkutan muncul sebagai penyanyi nasional maupun internasional yang dikenal dengan nama penyanyi Indonesia.

“Penyanyi-penyanyi daerah yang memperkuat identitas keindonesiaan antara lain Franky Sahilitua, Ruth Sahayana, Edo Kondologit, Rinto Harahap, Mus Mulyadi dan lain-lainnya. Mereka adalah orang-orang daerah yang lebih disering disebut sebagai penyanyi Indonesia,” kata dia.

Lebih lanjut, Mahfud MD berharap para musisi dan penyanyi baik tingkat nasional maupun daerah agar menggunakan musik dan lagu untuk mengekspresikan kecintaan kepada bangsa dan negara. “Ekspresi kecintaan melalui musik dan lagu itu bisa disalurkan melalui musik-musik dalam berbagai genre, termasuk disalurkan melalui mars dan hymme berbagai organisasi,” pungkas dia.

Sumber: BeritaSatu.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *