Selamat Ulang Tahun “Bapak Bangsa”

KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur

KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur

Pada 7 September 1940 atau 77 tahun silam, pasangan Wahid Hasyim dan Solichah dikaruniai seorang anak pertamanya di Jombang, Jawa Timur.

Anak lelaki kebanggaan itu kelak menjadi orang besar di Indonesia dan bahkan memimpin negeri ini. Dia lah cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hasyim Asy’ari yang dinamai Abdurrahman Wahid atau yang kemudian hari dikenal dengan Gus Dur.

Soal tanggal lahir ini, ada kisah unik seperti gaya Gus Dur semasa hidup. Meski Gus Dur lahir pada 7 September, sejumlah orang sering merayakan hari ulang tahun Gus Dur pada 4 Agustus.

Tak heran maka jika diingat, setiap 4 Agustus, peringatan Hari Lahir (harlah) Gus Dur kerap dilakukan Gus Durian untuk mengenang sang “Bapak Bangsa” itu.

Gus Dur pun membeberkan soal perbedaan tanggal lahirnya itu dalam sebuah wawancara yang diangkat harian Kompas pada 8 Agustus 1990.

Aneh tapi nyata, ibunda Gus Dur ternyata tidak tahu persis kapan anaknya lahir.

“ltu sebabnya saya tidak heran kalau orang-orang pada bingung kapan tepatnya saya lahir. Karenanya, terserah penafsiran oranglah,” ujar Gus Dur tersenyum sambil menyebut tanggal lahirnya adalah 4 Agustus 1940.

Bulan delapan nyatanya belum tentu pula jatuh pada bulan Agustus. Pasalnya, yang diingat Gus Dur dia lahir di bulan Sya’ban menurut penanggalan Islam.

Dengan demikian, sebenarnya dia dilahirkan pada 4 Sya’ban 1359 Hijriyah, yang sebenarnya dalam kalender Masehi tepat pada Sabtu, 7 September 1940. Dia dilahirkan di rumah kakek dari pihak ibunya, Kiai Bisri Syansuri, pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Tahun kelahirannya pun diragukan. Hal ini karena Gus Dur sempat menuakan diri satu tahun untuk masuk sekolah.

Ternyata ada kisah lucu dibalik kesalahan tanggal lahir Gus Dur ini. Guyonan lucu ketika Gus Dur lupa dengan tanggal lahirnya, ini kini popular pagi para pencinta Gus Dur atau Gusdurian. Konon, guyonan ini dilontarkan sendiri oleh Gus Dur .

Begini kisahnya, sewaktu kecil, saat dia mendaftarkan diri sebagai siswa di sebuah SD di Jakarta, Gus Dur ditanya oleh gurunya, “Namamu siapa Nak?”

“Abdurrahman,” jawab Gus Dur .

“Tempat dan tanggal lahir?”

“Jombang ,” jawab Gus Dur sambil terdiam beberapa saat.

“Tanggal empat, bulan delapan, tahun 1940,” lanjutnya.

Gus Dur agak ragu sebab dia menghitung dulu bulan kelahirannya. Gus Dur hanya hafal bulan Komariahnya, yaitu hitungan berdasarkan perputaran bulan. Dia juga tidak ingat bulan Syamsiahnya atau hitungan berdasarkan perputaran matahari.

Yang Gus Dur maksud, dia lahir bulan Sya’ban, bulan kedelapan dalam hitungan Komariah. Tetapi gurunya menganggap Agustus, yaitu bulan delapan dalam hitungan Syamsiah. Maka sejak itu lah dia dianggap lahir pada 4 Agustus 1940. Padahal sebenarnya dia lahir pada 4 Sya’ban 1359 Hijriah atau 7 September 1940.

Karena tidak mau repot repot, Gus Dur tidak pernah menggantinya. Karena memang motto Gus Dur “Gitu aja kok repot”.

Tak pastinya tanggal lahir Gus Dur ini karena buku doa yang berisi tanggal lahirnya hilang saat perang.

“Ayah saya (Wahid Hasyim) ikut perang sehingga buku itu terceceh entah ke mana,” ujarnya terkekeh.

Gus Dur tak ambil pusing soal waktu pasti dia lahir karena tak memiliki tradisi merayakan hari ulang tahun. Tradisi merayakan ulang tahun, kata Gus Dur, baru ada setelah putrinya yang paling kecil yakni Inayah Wulandari. Sebelum-sebelumnya, Gus mengaku lebih sering lupa hari ulang tahunnya.

“Anak itu selalu ingat saya ulang tahun. Dan hanya untuk dia saja, tradisi merayakan ultah ada,” katanya.

****

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>