Catatan Krisis Rohingya

Pengungsi Rohingya (Foto VOA News)

Pengungsi Rohingya (Foto VOA News)

Oleh : Ronna Nirmala (Beritagar.id)

Puluhan ribu orang berjalan melalui tanah-tanah berlumpur, perbukitan, dan hutan untuk mencapai Bangladesh. Ribuan lainnya mencoba jalur sungai dengan menaiki kapal-kapal kayu sederhana dengan muatan yang melebihi kapasitasnya.

Tak ada harta benda yang turut dibawa mereka, beberapa hanya menggendong anak-anak atau orangtua yang sudah tak mampu berjalan jauh. Kelelahan, ketakutan, dan kelaparan begitu tersirat jelas.

Mereka adalah para Muslim Rohingya, yang terpaksa mengungsi setelah tentara militer Myanmar dan sekutunya melakukan aksi balasan dengan membakar dan menghancurkan tempat tinggal mereka di Provinsi Rakhine, Myanmar.

Aksi balasan yang dimaksud berawal dari serangan Tentara Pembebasan Rohingya Arakan (ARSA) di bagian barat Rakhine pada 25 Agustus 2017 yang menewaskan 12 anggota pasukan keamanan Myanmar, dan sedikitnya 59 orang dari kelompok yang diklaim sebagai ekstremis Rohingya.

Namun, tak ada yang menduga aksi balasan akan sebesar ini. Bukan hanya serangan darat yang dilakukan pasukan keamanan gabungan, sejumlah helikopter juga terlihat menghujani penjuru Rakhine dengan tembakan.

Human Rights Watch (HRW) dalam situs resminya mencatat sedikitnya ada 17 titik api yang terpantau dari satelit, termasuk sebuah desa dengan 700 bangunannya habis dilalap api. Reuters bahkan melaporkan sedikitnya 2.600 rumah telah habis terbakar.

Sejumlah media internasional mengutip pernyataan militer Myanmar yang menyebut 400 orang telah tewas dalam sepekan belakangan. Dari total yang tewas, 370 di antaranya diidentifikasi sebagai pejuang Rohingya, 14 warga sipil, termasuk empat etnis Rakhine dan tujuh orang Hindu.

Jumlah tadi belum termasuk mereka yang tewas tenggelam setelah tiga kapal kayu yang mengangkut pengungsi terguling di Sungai Naf, perbatasan Bangladesh dan Myanmar.

Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut saat ini sudah ada sekitar 400.000 Muslim Rohingya yang berada di tenda pengungsian di Bangladesh. 100.000 lainnya, diperkirakan tengah menuju tempat yang sama.

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan pernyataan resmi atas krisis Rohingya ini. Di antaranya, mendorong semua pihak segera menghentikan aksi kekerasan, berkontribusi terhadap pemulihan keamanan, serta menghormati hak asasi manusia masyarakat di Rakhine State, termasuk masyarakat Muslim.

Sejumlah negara Muslim pun mengutuk kejadian ini. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan bahkan menyebut pemerintah Myanmar telah membiarkan terjadinya genosida (pembunuhan massal) di negaranya.

Entah apa alasannya, hingga saat ini, sang pemimpin de facto Myanmar yang sekaligus penerima nobel perdamaian, Aung San Suu Kyi, masih memilih diam seribu bahasa atas aksi pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di negaranya itu.

Lalu, apa poin-poin penting yang perlu diketahui dalam konflik yang telah memanas sejak lima tahun belakangan ini? Berikut kami siapkan catatan penting yang perlu Anda diketahui dalam konflik Muslim Rohingnya.

Siapa Muslim Rohingnya?

Rohingya adalah kaum minoritas Muslim yang menggunakan etnis bahasa Rohingya atau Ruaingga, sebuah dialek yang kerap digunakan di Rakhine, Myanmar. Nama Rohingya berasal dari “orang Rohang”, nama lain untuk orang Arakan–kini disebut Rakhine.

Banyak versi yang mengisahkan asal-usul Muslim Rohingya. Ada yang mengatakan mereka berasal dari Bangladesh, sementara lainnya mengklaim mereka adalah penduduk asli Rakhine, Myanmar.

Organisasi Nasional Arakan Rohingya yang dikutip Al-Jazeera menyebut Rohingya telah ada sejak abad ke-12 di wilayah yang saat itu bernama Arakan.

Namun, pada masa penjajahan Inggris (1824-1948), banyak Muslim Rohingya yang dipindahkan dari Myanmar ke India dan Bangladesh, sebab saat itu kolonial Inggris menganggap Myanmar sebagai bagian dari India.

Pada 1982, pemerintah Myanmar menolak memberikan kewarganegaraan kepada mereka dengan alasan Rohingya bukanlah termasuk dalam 135 kelompok etnis yang diakui di negara itu.

Kelompok minoritas yang ingin secara resmi diakui harus menunjukkan dokumen sebagai bukti bahwa nenek moyang mereka hidup di Myanmar (dulu disebut Burma) sebelum 1823. Sayang, kelompok Rohingya tak pernah mampu menunjukkan dokumen itu.

Sejak saat itu, keberadaan Muslim Rohingya selalu terombang-ambing lantaran tidak diakui dan juga tak bisa meninggalkan Rakhine karena tidak memiliki izin dari pemerintah setempat.

Mengapa mereka teraniaya?

Tidak adanya pengakuan dari Myanmar membuat segala macam bentuk diskriminasi dan pengusiran terlihat lazim terjadi pada kelompok minoritas ini.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan menyebut bahwa masyarakat Rohingnya sebagai salah satu kaum minoritas yang paling teraniaya di dunia.

Sebuah insiden besar melibatkan mereka terjadi pada 2012, ketika Muslim Rohingya terlibat dalam kasus pemerkosaan dan pembunuhan seorang wanita Buddha di Myanmar.

Ini yang kemudian memantik perkelahian berdarah antara umat Buddha di Rakhine dan Muslim Rohingya.

Pemerintah Myanmar bertindak dengan membatasi ribuan Rohingya dalam sebuah kamp pengungsian yang dibatasi dengan kawat berduri.

Kamp-kamp tersebut menerima sumber makanan dan bantuan medis yang sangat minim, sehingga mengakibatkan kelaparan dan penyakit, bahkan kematian. Polisi setempat juga melarang Rohingya meninggalkan kamp.

Sudah berapa banyak yang mengungsi?

Beberapa catatan menyebut total populasi Muslim Rohingya di Rakhine mencapai 1,3 juta orang.

Data terbaru PBB pada Mei 2017 menyebut, total telah ada 168.000 Muslim Rohingya yang pergi meninggalkan Myanmar sejak 2012, angka tersebut belum termasuk dengan eksodus yang terjadi pada sepekan terakhir.

Banyak Muslim Rohingya yang nekad menyebrang ke Malaysia melalui Teluk Bengal dan Laut Andaman. Pada rentang 2012 hingga 2015, ada lebih dari 112.000 pengungsi yang tercatat melakukan perjalanan berbahaya itu.

Badan perdamaian dunia itu juga mengestimasikan ada sekitar 420.000 Muslim Rohingya yang kini tersebar di berbagai negara di Asia Tenggara.

Ke mana mereka mengungsi?

Tujuan paling ideal mereka mengungsi adalah ke negara-negara di Asia Tenggara dan Selatan, seperti India, Bangladesh, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Tak jarang dari mereka yang melarikan diri melalui jalur perdagangan ilegal dan menjadi korban penyelundupan pada negara-negara tadi.

Kepolisian Thailand amat menentang penyelundupan manusia di wilayahnya, akibatnya ratusan Muslim Rohingya terdampar di atas perahu kayu di laut.

Pada Mei 2015, pemerintah Malaysia dan Indonesia akhirnya bersedia menerima kedatangan pengungsi Rohingya. Namun, penerimaan itu hanya berlangsung selama satu tahun selagi proses repatriasi dilakukan oleh masyarakat internasional.

Resistensi negara-negara terdekat Myanmar turut membuat para pengungsi memilih Bangladesh sebagai persinggahan sementara mereka menyusul konflik yang terjadi pada pekan ini.

Untuk sementara, para penjaga perbatasan Bangladesh menutup mata dan membiarkan para pengungsi ini masuk dan menetap pada tenda-tenda pengungsi yang sudah penuh dan sesak oleh pengungsi lain.

Satu catatan penting, Bangladesh juga bukan negeri impian. Tanpa ada pengungsi, Bangladesh adalah negeri yang memang sudah miskin, kelebihan populasi, serta mengalami krisis air bersih.

Apa tanggapan pemerintah Myanmar?

Tak ada.

Pemerintah Myanmar masih memilih menghindar ketika ditanyai perihal ini. Mereka tetap meyakini apa yang terjadi di Rakhine adalah ulah dari “teroris” Rohingya. Terlebih, Aung San Suu Kyi hingga saat ini tak memiliki kontrol atas militer Myanmar.

Tapi, tetap saja, tak pernah ada satu pun kutukan yang keluar dari mulut penerima nobel perdamaian ini atas aksi pelanggaran hak asasi manusia di Rakhine.

Apa tanggapan dunia?

Dunia begitu menyesalkan aksi kekerasan terhadap Muslim Rohingya ini. Pasalnya, kejadian ini terjadi bukan pada negara yang dipimpin diktator gila, melainkan dia yang menerima nobel perdamaian.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dalam lansiran media lokal Turki, Daily Sabah, bahkan mengaku siap menanggung seluruh biaya yang harus dikeluarkan pemerintah Myanmar untuk mengurus para Muslim Rohingya.

“Buka pintumu untuk Muslim Rohingya, aku tanggung semua biayanya,” tegas Erdogan, Sabtu (1/9/2017).

Perdana Menteri Najib Razak terus mendesak Aung San Suu Kyi untuk berbuat sesuatu. “Kita tidak bisa begitu saja membiarkan genosida terjadi. Dunia pun tak bisa berkata “Itu bukan masalah kita”. Itu masalah kita!”, ucap Najib Razak dalam BBC.

Di Indonesia, berbagai kalangan, mulai dari pemerintah pusat hingga kelompok-kelompok kemanusiaan dan keagamaan, mengutuk keras kejadian ini.

Bahkan, kelompok majelis agama Buddha di Indonesia–kelompok agama yang sama yang selama ini dituding sebagai musuh Muslim Rohingya, juga telah mengeluarkan kutukan mereka.

Adakah kepentingan bisnis di balik ini semua?

Klaim ini perlu dibuktikan lebih dalam.

Namun, seorang profesor dari Columbia University, Saskia Sassen yang menulis laporan dalam The Guardian meyakini bahwa permasalahan yang terjadi di Rakhine tak hanya berkaitan dengan pengakuan etnis minoritas saja.

Pada dua dekade terakhir, di banyak negara telah terjadi akuisisi lahan besar-besaran yang dilakukan sejumlah perusahaan untuk kepentingan pertambangan, perminyakan, pertanian, dan perairan.

Di Myanmar, para militer tercatat telah melakukan perebutan lahan sejak 1990, tanpa kompensasi. Perebutan lahan ini terus berlangsung, namun semakin menjadi pada beberapa tahun belakangan.

Dalam aksi kekerasan terhadap Muslim Rohingya pada 2012, jumlah lahan yang dialokasikan untuk akuisisi tersebut meningkat 170 persen dibandingkan 2010. Pada tahun yang sama juga, pemerintah Myanmar mengeluarkan kebijakan yang disebut lebih menguntungkan para pengusaha korporasi.

Mengeluarkan Rohingya, etnis yang tak pernah diakui di Myanmar, dari tanahnya boleh jadi sangat prospektif untuk bisnis. Apalagi, baru-baru ini pemerintah Myanmar mengalokasikan sekitar 1,2 juta hektare lahan di sekitar Rakhine untuk proyek pengembangan perdesaan.

Beritagar.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>